Pernah kepikiran nggak sih, seberapa besar peran tempat tinggal kita menentukan masa depan pendidikan kita?
Aku nggak pernah nyangka, menjalani peran sebagai guru saat ini udah kujalani lebih dari 7 tahun lamanya. Padahal berkali-kali aku berniat resign, tapi sampai sekarang belum jadi juga. Alasannya apa? Nanti di lain waktu aku cerita detailnya ~
Sewaktu kuliah, aku pernah magang di sebuah SMA favorit di Kota Pekanbaru. Kurang lebih enam bulan lamanya. Pengalaman itu berharga bagiku, karena aku jadi tahu bagaimana rasanya mengajar di sekolah ternama di kota besar. Aku jadi tahu bagaimana kultur murid-murid di kota, semangat belajarnya, daya juangnya, fasilitas sekolahnya, kemudahan akses untuk berkembang bahkan bagaimana gambaran karakter guru-guru yang mengajar di perkotaan.
Setelah lulus kuliah, aku kembali ke kampung halaman, menjadi guru di sebuah sekolah tempatku SMA dulu. Sekolah yang dulunya diunggulkan oleh pemerintah kabupaten, namun sejak kebijakan tahun 2017 menggunakan sistem zonasi maka title unggulan itu dihapuskan. Letak sekolah ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari ibu kota kabupaten, letaknya memang di desa meskipun di pinggir jalan lintas Sumatera.
Pengalaman menjadi guru di sekolah yang jauh dari ibu kota provinsi justru bikin aku belajar lebih banyak hal soal realita pendidikan di negeri ini. Bukan cuma soal kurikulum atau metode belajar. Tapi soal mimpi-mimpi yang terpaksa dikecilkan hanya karena tempat lahir dan kondisi ekonomi.
Di kota-kota besar, anak-anak punya banyak ‘jembatan’ untuk menggapai cita-citanya. Ada berbagai komunitas, bimbel, akses literasi digital yang lancar, bahkan orang tua yang mulai mikirin anaknya lulus SMA bakalan sekolah di luar negeri. Tapi di daerah kabupaten yang jauh dari ibu kota, perjuangan murid-muridku bahkan dimulai dari hal yang sangat dasar: sinyal internet yang nggak selalu lancar, perpustakaan daerah seadanya, motivasi belajar yang rendah hingga orang tua yang takut kalau anaknya kuliah jauh merantau.
“Takut nanti kalau anakku nggak ada yang urus di rantauan”
“Nanti biaya kuliahnya nggak sanggup dipenuhi”
“Gimana makan dan kosnya kalau kuliah jauh?”
“Mahal biaya kuliah jauh. Takut anakku nanti di sana nggak makan”
Beginilah kira-kira kekhawatirannya. Bukan karena mereka nggak sayang. Tapi karena keterbatasan pandangan dan ekonomi.
Aku menyaksikan banyak sekali anak-anak di daerah yang sebenarnya cerdas, punya potensi bagus untuk berkembang dan layak dapat tempat di kampus-kampus unggulan. Tapi mereka harus rela ‘mengalah’ dengan keadaan. Banyak diantaranya memilih ikut bekerja orang tua ke ladang setelah lulus SMA. Atau bagi yang semangat belajarnya masih ada akhirnya memilih kuliah di kampus seadanya — asal dekat, asal murah kata mereka.
Ternyata ada banyak penelitian yang bilang kalau lokasi tempat tinggal emang berpengaruh sama tingkat pendidikan seseorang. Penelitian dari jurnal EduGeo (UNNES, 2023) bilang kalau lokasi geografis dan tingkat ekonomi rumah tangga sangat berpengaruh terhadap keterjangkauan dan kelanjutan pendidikan. Ini juga divalidasi sama data dari Jurnal Perencanaan Pembangunan oleh Bappenas, ketimpangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia masih tinggi. Faktor-faktor kayak latar belakang keluarga, kondisi ekonomi dan lokasi geografis emang berperan besar dalam menentukan akses anak terhadap pendidikan berkualitas. Anak-anak dari keluarga miskin dan daerah terpencil memang cenderung memiliki peluang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Data dari The Jakarta Post juga bilang kalau di tahun 2023, hanya 22,14% penduduk pedesaan Indonesia yang menyelesaikan pendidikan menengah atas, dibandingkan dengan 35,95% di perkotaan. Katanya sih meskipun ada peningkatan dari tahun 2018, tapi tetap aja ada kesenjangan yang cukup tinggi dan ini menunjukkan bahwa anak-anak di desa masih tertinggal dalam hal pencapaian pendidikan.
Jadi sedih sih kadang. Indonesia itu luas banget. Tapi kesempatan belajar belum tentu terbuka merata. Katanya pendidikan untuk semua. Tapi nyatanya pendidikan yang layak masih sebatas bisa dinikmati di kota.
Kemarin 02 Mei 2025, Hari Pendidikan Nasional, aku patah hati dengan pendidikan kita waktu menuliskan tulisan ini sambil merenungi realita yang ada di depan mata. Lewat tulisan ini pula aku cuma mau bilang: semoga kita semua bisa lebih peka.
Jangan tutup mata sama ketimpangan yang ada.
Jangan anggap pendidikan itu cuma tugas guru, tugas sekolah atau lembaga pendidikan lainnya semata. Pendidikan kita juga bukan cuma soal kurikulum yang katanya udah merdeka. Tapi pendidikan juga soal keberpihakan. Soal siapa yang sedang kita bantu dan siapa yang masih belum terdengar suaranya di sudut-sudut desa.
Karena pendidikan pada dasarnya bukan cuma untuk yang mampu. Tapi untuk semua. Semoga kita orang-orang yang terdidik makin banyak yang mau ambil bagian. Nggak harus jadi guru. Tapi bisa jadi relawan, donatur, mentor, atau bahkan hanya dengan tidak memadamkan semangat mereka yang sedang belajar bertahan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional!
Semoga suara ketimpangan dari sudut-sudut negeri bisa didengar lebih luas. Juga semoga kita semua bisa jadi bagian dari pendidikan yang lebih adil, lebih manusiawi, optimis menyalakan asa dengan merata.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!