Masalah sampah masih menjadi salah satu tantangan yang perlu segera diatasi di Indonesia. Mungkin kamu berpikir ketika membuang satu lembar plastik saja “Ah, cuman satu ko. Ga bakal jadi masalah” tapi apakah kamu pernah berpikir jika semua orang di Indonesia bahkan satu dunia berpikir yang sama, apa yang akan terjadi? Bisa bisa jadi lautan sampah! Mungkin pada kenyataan nya tak sama tapi sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia semakin banyak jumlahnya karena meningkatnya jumlah penduduk, tingkat penggunaan barang, serta kemajuan teknologi. Jumlah penduduk yang mencapai 261.115.456 orang ikut memperbesar jumlah sampah yang dihasilkan, yang mencapai lebih dari 65 juta ton per tahun (BPS, 2018:5). Diperkirakan, semakin bertambahnya jumlah penduduk juga akan semakin meningkatkan jumlah sampah yang dihasilkan.Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan masalah lingkungan dan juga berdampak negatif pada kesehatan masyarakat. Penyakit yang bisa muncul akibat sampah, seperti diare, demam berdarah dengue, tifus, dan lainnya. Masalah lingkungan lainnya adalah pencemaran udara karena bau sampah yang mengganggu pernapasan dan pencemaran air yang terjadi ketika cairan dari sampah (lindi) mengalir ke tanah, sehingga mencemari air tanah dan sumber air sekitarnya. Mengurangi jumlah sampah adalah salah satu tujuan yang ingin dicapai, yang sesuai dengan poin ke-12 dalam indikator target pembangunan berkelanjutan atau yang sering disebut SDGs, terkait dengan konsumsi dan produksi yang dilakukan secara berkelanjutan. Aktivitas manusia menyebabkan timbulnya sampah, sehingga sampah akan tetap menjadi masalah selama manusia masih melakukan kegiatan. Masalah sampah bukanlah sesuatu yang bisa dihindari, melainkan harus dikelola. Untuk menangani masalah sampah, dibutuhkan upaya yang strategis, menyeluruh, dan berkelanjutan agar tidak menimbulkan masalah baru selama prosesnya.Paradigma lama pengelolaan sampah di Indonesia dengan sistem 3P (Pengumpulan, Pengangkutan, Pembuangan) harus diganti dengan paradigma baru yang bertumpu pada sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Paradigma baru ini menuntut masyarakat untuk ikut bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya dengan ikut terlibat aktif dalam pengelolaan sampah mulai dari sumbernya. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah dilakukan mulai dari lingkungan rumah tangga dengan mengolah sendiri sampah yang dihasilkannya. Prakteknya sering tidak sesuai dengan harapan, karena tidak semua masyarakat bersedia dan/atau mampu mengolah sendiri sampahnya. Kesadaran masyarakat terhadap sampah juga masih rendah. Dari website Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) jika sampah yang terkelola hanya 34, 62% dan 65,38% terbuang ke lingkungan. Jika kamu masih belum menyadari krisis ini maka kesampingkan dulu data di handphone mu dan berjalan keluar rumah. Apakah sungai di sekitar rumah mu bersih? Apakah tempat sampah di alun-alun mu digunakan sesuai fungsi nya? Dan apakah lahan kosong di sekitarmu bersih? Terkadang kita perlu keluar dan berjalan. Melihat ke sekitar dan menghirup udara yang di hasilkan alam. Dan menimang-nimang apakah udara ini cukup menyegarkan atau tidak? Karena sejatinya kita tak akan bisa hidup tanpa alam atau lingkungan sekitar. Menurut hemat penulis, lingkungan hidup itu berguna bagi manusia sebagai tempat untuk bertahan hidup dan penyokong keberlangsungan hidupnya dan manusia merupakan salah satu komponen penting dalam lingkungan hidup. Antara manusia dan lingkungannya memiliki hubungan timbal balik. Hal ini berhubungan dengan perilaku manusia dalam interaksinya dengan lingkungannya yang dibuktikan dengan aktivitas manusia dalam mengelola dan mengambil sumber daya alam. Jelaslah bahwa manusia adalah bagian integral lingkungan hidupnya (Ginting et al., 2022). Manusia tanpa alam, manusia tidak dapat melangsungkan hidupnya, tetapi alam tanpa manusia, alam dapat melangsungkan hidupnya sebagaimana dia adanya sejak awal (Ledy Manusama, 2015). Oleh sebab itu manusia harus menjaga dan memelihara lingkungan hidupnya dengan baik agar ia dapat bertahan hidup. Masalah: Keadaan Lingkungan Hidup semakin hari yang semakin memburuk dikarenakan aktivitas hidup manusia yang merusaknya (Siskayanti & Chastanti, 2022). Oleh karenanya, mari kita bersama sama membuka mata terhadap persoalan lingkungan yang tak habisnya jika tidak memulai. Kita bisa mulai dengan satu hal sederhana. Membuang sampah pada tempatnya. Mari Kita bersama sama mulai dengan langkah kecil, karena mimpi besar harus di mulai dengan langkah kecil.
“Tapi aku udah membuang sampah ke tempatnya ko, kenapa sampah tetep menumpuk aja?” apakah ada pertanyaan seperti itu yang tersirat di pikiran mu? Jika pernah maka mari bersalaman, karena aku pun sama. Pada Minggu 11 Januari 2026 aku bersama teman teman dari organisasi OSIS dan Dewan Ambalan melakukan kegiatan Clean Up Heroes di alun-alun. Ternyata di sepanjang jalan yang kami lewati begitu banyak sampah berserakan dan jika aku kesana menggunakan kendaraan aku tak berpikir akan menyadari nya. Ternyata, di balik indahnya rumput Alun-alun, terselip banyak puntung rokok dan sobekan plastik kecil yang luput dari pandangan mata saat kita melintas cepat. Sampah-sampah kecil inilah yang paling sulit dibersihkan dan paling merusak ekosistem tanah itulah hari yang menyadarkan ku juga jika terkadang kita harus memperhatikan lingkungan yang memberi kita hidup. Bukan sekedar tinggal. Memang sangat mengecewakan jika kita mencoba untuk melakukan perubahan namun orang orang di sekitar kita justru menolak. Saat kegiatan kemarin pun, kami sempat beristirahat sejenak setelah berkeliling alun alun mencari sampah kami melihat beberapa botol kosong di area yang baru baru di bersihkan. Rasa kecewa dan lelah tentu membanjiri namun perlu diingat bahwa kita tak boleh lelah untuk berbuat kebaikan. Aku juga yakin bahwa ini hanya titik awal dari kami untuk mencintai alam. Mungkin orang lain belum paham, tapi kami sudah. Jadi sudah jadi tanggung jawab kami untuk bergerak dan menjadi bagian dari mereka yang menunjukan langkah penuh mimpi untuk masa depan yang lebih baik. Kolaborasi antara OSIS dan Dewan Ambalan (DA) dalam Clean Up Heroes kemarin bukan sekadar aksi pungut sampah. Ini adalah pernyataan sikap dari kami, para pelajar, bahwa kami siap memimpin perubahan dari hal yang paling dasar. kepedulian. Kami belajar dari kegiatan Clean Up Heroes ini bahwa membuang sampah di tempatnya hanyalah standar minimum. Bertanggung jawab atas lingkungan di mana orang lain tidak menyadarinya adalah tingkat selanjutnya. Kami menemukan bahwa menjadi pahlawan lingkungan tidak memerlukan jubah, hanya perlu memiliki keberanian untuk membuang sampah di depan umum. Aku dan teman ku sudah memulainya, maka sekarang giliran kamu. Mari melangkah untuk dirimu, keluarga mu dan masa depan mu.🌱Lindungi bumi, sayangi diri.
Referensi:https://share.google/ShKjKW4pRIxjQwoj6 (data sampah)https://portal-sipsn.kemenlh.go.id/ https://share.google/4rVf8RyjYMB5Rk6a8
.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!