Pada dasarnya manusia memiliki dua hasrat utama yaitu keinginan untuk bersatu dengan masyarakat dan keinginan untuk bersatu dengan alam sekitarnya, oleh karena itu dibentuklah kelompok-kelompok social yang menempatkan individu bersama dengan orang-orang disekelilingnya untuk memenuhi keinginan tersebut. Dapat kita perhatikan dalam Eksperimen konformitas Asc. Eksperimen tersebut merupakan serangkaian eksperimen psikologis yang dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1950-an. Eksperimen tersebut mengungkap sejauh mana pendapat seseorang dipengaruhi oleh pendapat kelompoknya . Asch menemukan bahwa orang-orang bersedia mengabaikan kenyataan dan memberikan jawaban yang salah agar dapat menyesuaikan diri dengan kelompok lainnya.Dalam istilah psikologis, konformitas mengacu pada kecenderungan individu untuk mengikuti aturan atau perilaku tak tertulis dari kelompok sosial tempat mereka berada. Para peneliti telah lama ingin tahu tentang sejauh mana orang mengikuti atau memberontak terhadap norma sosial.Asch tertarik untuk meneliti bagaimana tekanan dari suatu kelompok dapat menyebabkan orang-orang untuk menyesuaikan diri, bahkan ketika mereka tahu bahwa anggota kelompok lainnya salah. Tujuan dari eksperimen kesesuaian Asch adalah untuk menunjukkan kekuatan kesesuaian dalam kelompok. Eksperimen konformitas Asch ini akhirnya menunjukkan bahwa individu cenderung mengikuti mayoritas, bahkan jika mayoritas itu salah, karena tekanan sosial dan keinginan untuk tidak dianggap berbeda. Penelitian ini menemukan bahwa sekitar 75% subjek menyesuaikan diri dengan jawaban salah yang diberikan oleh anggota kelompok lainnya, meskipun mereka tahu jawaban yang benar. Dari eksperimen tersebut, dapat kita simpulkan bahwa lingkungan dan kelompok disekitar kita akan berperan penuh pada kehidupan. Keputusan yang kita ambil bahkan dapat terpengaruhi. Dapat kita lihat dalam kasus perundungan atau kerap di sebut bullying. Perilaku bullying merupakan perilaku agresif yang serius. Perilaku agresif dapat terjadi karena berbagai faktor. Faktor-faktor situasional yang dapat memicu terbentuknya perilaku agresif menurut O’Connell (dalam Annisa, 2012, hlm 3) antara lain budaya sekolah (bullying yang dilakukan guru atau teman sebaya). Walaupun begitu kasus bullying masih marak terjadi, mau itu secara individu maupun berkelompok.Walaupun sudah jelas bahwa tindakan bullying adalah hal negatif yang tidak seharusnya terjadi justru malah dijadikan sebagai mainan oleh sekelompok orang. Jika kita melakukan pencarian “Bullying” maka tak akan heran jika langsung ada satu individu yang dikerumuni sekelompok orang. Tentu saja hal ini tidak menjamin bahwa semua orang berpikir sama. Mungkin saja salah satu dari mereka menyadari bahwa tindakan tersebut seharusnya tidak terjadi.Tapi, seperti yang sudah di sebutkan sebelumnya, bahwa pengaruh kelompok di sekitar kita sangat berpengaruh pada tindakan dan perilaku.Perilaku mengikuti kelompok adalah bagian integral dari pengalaman manusia. Faktor-faktor evolusioner, sosial, dan kognitif bekerja sama untuk mendorong kita mencari rasa aman, mengikuti norma, dan meniru perilaku orang lain dalam kelompok.
“Tell me who your friends are, and I will tell you who you are.”— Sancho Panza dalam Don Quixote oleh Miguel de Cervantes
Sumber:
The Asch Conformity ExperimentsWhat These Experiments Say About Group Behavior
By Kendra Cherry, MSEd
PENGARUH KELOMPOK TEMAN SEBAYA (PEER GROUP) TERHADAP PERILAKU BULLYING SISWA DI SEKOLAHDara Agnis Septiyuni, Dasim Budimansyah, Wilodati Wilodati. Universitas pendidikan Indonesia.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!