“Hayo, dikunyah yang betul makanannya!”
Mungkin kita masih ingat bagaimana orang tua kita mengatakan bahwa kita harus makan secara perlahan, mengunyak dengan baik dan jangan sampai tergesa gesa hanya karena kelaparan. Tujuan utamanya adalah untuk mencegah anak tersedak. Namun, siapa sangka, manfaat dari rekomendasi tersebut jauh lebih besar daripada sekadar mencegah makanan tersangkut di kerongkongan. Hal ini sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW tentang larangan tergesa-gesa sebagaimana dalam hadits berikut:
التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَ العُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.”Dalam hal mengunyah makanan, Rasulullah SAW juga bersabda:
إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلاَةَ الْمَغْرِبِ ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ
“Jika makan malam telah tersajikan, maka dahulukan makan malam terlebih dahulu sebelum shalat Maghrib. Dan tak perlu tergesa-gesa dengan menyantap makan malam kalian.”Hal ini sangatlah menarik untuk dikaji lebih dalam. Apakah ada penjelasan berdasarkan sains? Mengapa dianjurkan untuk mengunyah dengan perlahan?
Tidak sedikit dari kita yang makan dengan terburu-buru, terutama saat lapar atau berbuka puasa, seolah-olah kita sedang berlomba untuk memakan semua makanan kita. Akibatnya, makanan tidak dikunyah dengan baik dan menimbulkan masalah pencernaan. Hal ini karena saat makan dengan cepat, kita mengunyah lebih sedikit sehingga makanan masuk ke perut dalam ukuran yang besar dan membebani sistem pencernaan kita (Heinberg, 2024).
Menurut penelitian, makan dengan cepat meningkatkan kemungkinan terkena sindrom metabolik. Gejalanya meliputi peningkatan ukuran lingkar pinggang, peningkatan kadar trigliserida darah, tekanan darah tinggi, intoleransi glukosa, dan penurunan kadar kolesterol tinggi lipoprotein darah (Yuan dkk., 2021).
Kedua, makan dengan cepat dapat mengubah tingkat hormon pencernaan, baik anoreksigenik (hormon penekan lapar, seperti peptida YY, kolesistokinin, dan glukagon-like peptida-1) maupun hormon oreksigenik (hormon yang menyebabkan lapar, seperti ghrelin). Studi menunjukkan bahwa subjek yang makan lebih cepat dan mengunyah lebih sedikit memiliki tingkat hormon oreksigenik dan anoreksigenik yang lebih rendah. Sebaliknya, subjek yang makan lebih lambat dan membaca lebih banyak memiliki tingkat hormon anoreksigenik dan oreksigenik yang lebih tinggi. Namun, hormon oreksigenik memberikan sinyal lapar ke hipotalamus, sedangkan hormon anoreksigenik memberikan sinyal kenyang. Sehingga, mereka yang mengunyah lebih cepat cenderung lapar dan makan lebih banyak lagi (Ardining, n.d.).
Ketiga, makan dengan cepat dapat menyebabkan respon tubuh terhadap hormon insulin menurun. Ini disebut resistensi insulin. Meskipun demikian, insulin berfungsi sebagai sinyal kenyang. Tubuh menghasilkan sitokin, protein yang membantu persinyalan. Selain itu, resistensi insulin menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah dan tubuh menjadi intoleransi terhadap glukosa (Ardining, n.d.).Dalam bukunya yang berjudul The Enzyme Miracle, Dr. Hiromi Sinya mengatakan bahwa makanan yang dikunyah dengan baik lebih baik daripada bubur yang lembut (Sinya, 2007). Karena dalam mengunyah, air liur dapat memecah bahan dalam makanan secara kimiawi saat kita memakannya dengan enzim. Mengunyah dengan baik memiliki banyak keuntungan, tetapi keuntungan terbesar adalah menghemat enzim pangkal. Dalam buku ini juga disebutkan bahwa enzim pangkal adalah enzim prototipe yang belum terspesialisasi. Selama belum diubah menjadi suatu enzim tertentu untuk memenuhi kebutuhan tertentu, enzim pangkal ini dapat berubah menjadi protein jenis apa pun. Semakin banyak seseorang yang mengunyah, kelenjar air liurnya mengeluarkan lebih banyak air liur. Karena air dapat bercampur dengan asam lambung dan air empedu, pencernaan pun lebih mudah. Dinding usus manusia dapat menyerap zat hingga 15 mikron (0,015 milimeter) dan yang lebih besar akan disekresikan.Oleh karena itu, sebagian besar makanan yang dimakan akan terbuang tanpa terserap jika seseorang tidak mengunyah dengan baik. Bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan, mengunyah adalah pilihan yang bagus. karena makan memerlukan waktu yang lebih lama. Tingkat gula darah meningkat selama makan dan nafsu makan ditahan, sehingga Anda tidak makan lebih banyak. Keuntungan lain menikmati makanan dengan baik adalah membunuh parasit. Kita dapat dengan mudah membasmi serangga pada sayuran atau bahan makanan lain, tetapi ini berbeda dengan parasit pada ikanikan (Rahman dkk., 2022).
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa semakin banyak mengunyah, semakin banyak air liur yang keluar dari mulut, sehingga banyak enzim yang digunakan untuk mengunyah. Namun, jika makanan tidak terkunyah dengan baik, lambung menggunakan lebih banyak enzim untuk mencernanya (Rahman, N dkk., 2022)Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, enzim adalah katalisator organik yang dibuat oleh sel dan bertanggung jawab atas semua reaksi metabolisme. Dengan kata lain, jika tidak ada enzim, pertumbuhan sel dan aktivitas metabolisme akan terhambat. Untuk melakukan reaksi enzimatik ini, bakteri harus berkembang biak, mendapatkan makanan dan nutrisi dalam bentuk larut sehingga dapat diserap ke dalam sel, bergerak, mengumpulkan energi kimia yang digunakan untuk biosintesis, dan banyak lagi. (Damira dkk., 2021).
Daftar Pustaka
Ardining, H. (n.d.). Makan Cepat, Risiko Sindrom Metabolik Meningkat. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Retrieved from: https://www.academia.edu/23713093/MAKAN_CEPAT_RISIKO_SINDROM_METABOLIK_MENINGKAT. (14 Februari 2025). Damira., Firdha.,N.Farma.,S.A. Atifah.,Y. Batungale.,S(2021). Aktivitas Enzim Amilase pada Saliva dan Enzim Protease pada Sekret Pankreas Rana esculenta. Universitas Negeri Padang, Volume 01 2021, hal 111-121. Retrived feom: https://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/19/14. (10 Februari 2025). Heinberg, L. Eating Too Fast? Here are 4 Ways to Slow Down. Cleveland Clininc. Retrieved from: https://health.clevelandclinic.org/why-do-i-eat-so-fast. (13 Maret 2025)Rahman, N., Zulfa, A. D., meylinda, R., Zahra, H., Rahayu, S. (2022). Etika Makan Nabi dalam Perspektif Sains Medis. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, vol. 4, pp. 128–133. Retrieved from: https://ejournal.uin-suka.ac.id/saintek/kiiis/article/view/3277/2470. (14 Februari 2025).Setya, D,. (2023). 20 Hadits Rasulullah SAW tentang Larangan dalam Kehidupan Sehari-hari. Retrieved from: https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510545/20-hadits-rasulullah-saw-tentang-larangan-dalam-kehidupan-sehari-hari (27 Februari 2025).Sinya, H. (2007). The Enzyme Miracle.Yuan, dkk. (2021). Association Between Eating Speed and Metabolic Syndrome: A Systematic Review and Meta-Analysis. Frontiers Sec. Nutritional Epidemiology, Vol 8. Retrieved from: https://www.frontiersin.org/journals/nutrition/articles/10.3389/fnut.2021.700936/full. (13 Maret 2025).
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!