Skip to main content

Loading...

Inisiator
Cerita Kami Komunitas
Masuk Mulai Sekarang
Selamat Datang di Inisiator
Temukan cerita menakjubkan
Beranda Cerita Kami Peringkat

Bahasa

ID
EN
Masuk Daftar

Jembatan-Jembatan Itu Bernama Kamu

Ada yang hadir hanya sementara, tapi mengubah arah hidup kita. Ada yang singgahnya sebentar, tapi dampaknya dalam. Mungkin mereka bukan hanya kebetulan, tapi jembatan yang mengantarkan pada kebaikan.

  1. Home
  2. /
  3. Articles
  4. /
  5. Jembatan-Jembatan Itu Bernama Kamu
May 11
8 min read
513 views
Author: Tengku Novenia Yahya

Article Actions

Interact with this article

Clap
0 claps
Save
Add to bookmarks
Reading List
Add to reading list
Jembatan-Jembatan Itu Bernama Kamu

Kadang aku berpikir bahwa hidup ini seperti perjalanan jauh yang melintasi banyak sungai. Untuk bisa terus melangkah, tentu aku butuh jembatan. Jembatan yang entah datang dari mana, tapi selalu ada saat dibutuhkan. Lalu, kini aku sadar kalau diibaratkan jembatan maka jembatan-jembatan itu ternyata adalah orang-orang yang aku temui di dalam hidupku.

Hingga detik ini, ada banyak orang-orang yang kutemui dalam hidupku. Aku nggak pernah tahu kenapa aku dipertemukan dengan mereka. Tapi saat refleksi untuk menuliskan tulisan ini, aku menyadari bahwa setelah melalui banyak cerita hidup aku jadi meyakini kalau setiap orang yang kutemui, baik itu di dunia nyata ataupun maya, bukanlah suatu kebetulan. Mereka orang-orang yang kutemui itu membawa sesuatu untukku. Entah itu pelajaran, keberanian, arah baru, atau sekadar rasa aman saat dibutuhkan. Bagiku, itu semua berharga.

Tidak Ada Pertemuan yang Kebetulan

Sewaktu SMA, aku pernah jadi delegasi Riau untuk lomba FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional) di Lombok untuk kategori lomba Cipta dan Baca Puisi. Saat itu aku memberanikan diri bertanya pada salah seorang juri. Namanya Pak Ahmadun Yose Herfanda, seorang sastrawan Indonesia. Aku dengan tampang polos dan semangat belajar bisa ketemu tokoh nasional saat itu bertanya, “Gimana caranya jadi penulis? Saya mau jadi penulis, Pak!”

Jawaban beliau sederhana:

“Perbanyak membaca. Lalu mulailah menulis. Karena tulisan itu cuma bisa lahir kalau kamu menulis.”

Sederhana jawabannya, tapi ngena banget! Sejak saat itu, aku nggak cuma bawa pulang pengalaman lomba, tapi juga nyali untuk lebih berani mewujudkan mimpi. Empat tahun setelahnya, aku berhasil menulis buku pertamaku. Ya walaupun tentu kualitasnya jauh dari kata sempurna. Tapi rasanya, satu kalimat dari Pak Yose saat itu adalah jembatan yang menghubungkanku dari keinginan jadi penulis untuk menuju langkah pertama yang akhirnya benar-benar kutapaki. Setelah karya pertama itu terbit, aku jadi lebih berani lagi untuk menulis buku-buku selanjutnya di tahun-tahun berikutnya.

Dari Layar Virtual ke Dunia Nyata

Di masa pandemi Covid-19, saat dunia terasa berjeda dan sunyi karena lockdown, aku justru menemukan banyak suara-suara kebaikan lewat ruang-ruang virtual yang kujumpai. Aku mengikuti banyak sekali kelas-kelas pengembangan diri secara online. Ada Studio Kreator Linimasa, Life Planning Canvas dari Mudif Consulting, Forum Indonesia Muda dan banyak lagi. Uniknya, meskipun cuma ketemu lewat layar virtual, tapi aku bisa merasakan frekuensi yang sama dengan orang-orang yang kutemui di dalamnya. Banyak dari mereka yang sekarang jadi sahabat-sahabatku. Ada yang diajak diskusi, ada yang diajak kolaborasi, bahkan ada orang-orang yang jadi ring satu untukku deep talk berbagi mimpi juga keresahan diri. Diantara mereka, beberapa diantaranya bahkan akhirnya kutemui juga di dunia nyata! Mulanya takut akward, tapi ternyata pas udah ketemu, rasanya justru hangat sekali dan seperti sudah kenal lama. Momen-momen kayak gini buat aku mikir seolah-olah Tuhan pengen bilang, “Nih, teman seperjalananmu!”

Kebaikan Random dari Orang Tak Dikenal

Pernah juga suatu hari aku ketemu orang asing di pesawat. Nggak kenal siapa dia. Tapi dia bantuin aku cari bus dari Bandara Soeta ke Bandung, kota yang waktu itu belum pernah kusinggahi pakai jalur darat sendirian. Kebaikan random itu mungkin sekilas seperti kebetulan. Tapi dari momen itu justru aku jadi tahu gimana caranya naik bus dari Soeta ke Bandung. Lagi-lagi, orang ini jembatan buatku untuk sampai ke tempat yang pengen aku tuju.

Aku juga pernah diceritakan oleh salah seorang sahabat. Suatu hari, saat ia sedang dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta menuju Lampung bertemu dengan seorang ibu paruh baya di bus yang duduknya bersebelahan. Ibu itu melihat sahabatku ini sedang memegang Buku “Renung”, karyaku. Ibu itu kepo dan bertanya itu buku tentang apa. Sahabatku memperlihatkan buku tersebut dan meminjamkannya pada ibu itu. Sepanjang perjalanan, bukan sahabatku yang membaca buku itu, tapi justru si ibu yang malah keasikan membaca buku. Sampai tiba di Lampung, saat hendak akan berpisah, si ibu mengucapkan terima kasih banyak kepada sahabatku karena sudah meminjamkan Buku “Renung” tersebut. Kata si ibu, buku tersebut sudah menguatkannya dan mengingatkannya banyak hal tentang nasihat hidup. Ternyata si ibu adalah seorang mualaf yang kini tengah dijauhi dan diusir oleh keluarga besarnya karena beliau memilih memeluk Islam. Lewat Buku “Renung”, beliau bilang seperti menemukan teman yang menguatkan di tengah cobaan berat yang sedang ia hadapi.

Aku yang mendengar cerita sahabatku saat itu tak kuasa menahan haru. Rasanya hangat sekali, aku nggak nyangka kalau karyaku bisa seberdampak itu untuk orang lain. Aku nggak bertemu langsung dengan si ibu yang diceritakan. Bahkan mungkin sahabatku itu hanya random bertemu dengan si ibu di dalam perjalanannya. Tapi lewat cerita sahabatku itu, aku jadi bisa merasakan energi kebaikan yang besar di dalamnya. Energi itu juga menjelma menjadi kekuatan besar yang mengingatkanku untuk terus melangkah berkarya lewat tulisan. Sebab kita tidak pernah tahu tulisan mana yang mampu menyentuh hati seseorang.

Relasi yang Memperluas Jalan

Kalau ngomongin soal jembatan, kadang jembatan itu ada yang panjang. Kadang ada juga yang cuma setapak. Sama kayak orang-orang yang kita temui dalam hidup. Ada yang akhirnya menetap jadi sahabat atau orang-orang terdekat, ada juga yang hanya numpang lewat jadi kenalan biasa. Tapi bagiku mereka semua bermakna.

Aku tumbuh dalam dunia yang penuh dengan pertemuan demi pertemuan dengan banyak orang. Dari kecil aku senang ikut lomba keluar kota, ketemu orang dari sekolah dan daerah lain. Aku juga senang berorganisasi. Organisasi dari level sekolah, kampus hingga jejaring nasional. Sekarang, setelah aku dewasa, aku baru sadar bahwa hasil dari pertemuan-pertemuan itu menjadi relasi bagiku yang nggak cuma memperluas jaringan. Tapi juga memperluas jalan untuk menemukan kebaikan, kesempatan dan lebih banyak pelajaran hidup.

Pernah ada ungkapan yang bilang, "Nggak semua orang yang kamu temui akan baik padamu."

Aku mengiyakan pernyataan ini. Memang nyatanya nggak semua orang yang pernah kutemui semuanya bersikap baik. Orang-orang baik banyak, tapi yang singgah ngasih luka atau kesan nggak menyenangkan juga ada.  Tapi dari pengalaman-pengalaman kurang menyenangkan itu pun aku belajar bahwa bahkan dari mereka yang menyebalkan itu pun kadang justru menjadi jembatan bagiku menuju kesadaran baru. Kesadaran tentang batas diri, tentang sabar, tentang memilih untuk ikhlas dan tidak membalas.

Studi Ilmiah tentang Relasi

Semakin ke sini, aku semakin percaya kalau setiap orang yang hadir dalam hidup kita baik yang masih terhubung baik saat ini maupun yang hanya sekilas lewat begitu saja, mereka semua punya peran dan pengaruh dalam hidup. Sekecil apa pun itu. Bahkan hanya satu kalimat atau diskusi kecil-kecilan pun bisa menyalakan api semangat dalam diri. Hubungan semacam inilah yang diam-diam jadi jembatan-jembatan kebaikan dalam hidup kita.

Menariknya, apa yang aku rasakan ini ternyata juga didukung oleh penelitian ilmiah. Sebuah studi panjang selama lebih dari 80 tahun dari Harvard yang dipimpin oleh Dr. Robert Waldinger menemukan bahwa kualitas hubungan sosial adalah prediktor terbesar dari kehidupan yang panjang dan sehat. 

“Hubungan sosial yang kuat dan hangat adalah faktor paling penting dalam kebahagiaan dan kesehatan jangka panjang seseorang, lebih dari kekayaan atau ketenaran.”

— Robert Waldinger, Harvard Study of Adult Development

Katanya, hubungan yang baik membantu mengatur stres dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan . Ternyata bukan pencapaian yang membuat seseorang merasa utuh. Tapi relasi yang dihadirkan lewat percakapan dan perjumpaan.

Riset lain dari Julianne Holt-Lunstad juga menguatkan:

“Koneksi sosial yang kuat dapat menurunkan risiko kematian dini hingga 50%."

— World Psychiatry, 2022

Ternyata rasa hangat saat ngobrol dengan banyak orang yang ditemui, sahabat, tawa kecil saat saling bertegur sapa via DM, diskusi-diskusi hangat atau obrolan langsung saat akhirnya ketemu di dunia nyata semuanya itu bukan cuma perasaan menyenangkan. Tetapi juga bagian dari yang menjaga kita bisa tetap sehat, waras dan tetap menjadi manusia.


Maka lewat tulisan ini, aku ingin bilang: Terima kasih untuk setiap orang yang pernah Allah Swt kirimkan dalam hidupku. Entah saat ini kalian masih tinggal di sini atau sudah pergi. Entah kalian yang pernah lewat hanya menyapa sebentar, yang sempat menggenggam relasi cukup lama, atau bahkan yang sampai saat ini masih terkoneksi selalu ada. Aku mengingat kalian sebagai jembatan. Aku berdoa, di mana pun kalian berada semoga senantiasa dilimpahkan kebaikan juga keberkahan. Setiap hadir dari kalian bermakna bagiku, jembatan untuk menemukan banyak hal-hal baru. Semoga aku pun juga bisa menjadi jembatan kebaikan yang sama bagi orang lain. Barangkali bagi Kamu juga yang sedang membaca tulisan ini ~

Tag Cerita

#Kontemplasi #Relationship #Refleksi Diri #Self Improvement
Tengku Novenia Yahya
Written by Tengku Novenia Yahya
26 followers · 12 following

✍️Suka nulis kontemplasi seputar Self Improvement 📚Sesekali mengulas buku 📕Penulis Buku Renung, Sadar, Merasa Cukup dan 5 buku lainnya | Merasa Cukup tersedia di Gramedia!

Tengku Novenia Yahya
Written by Tengku Novenia Yahya
26 followers · 12 following

✍️Suka nulis kontemplasi seputar Self Improvement 📚Sesekali mengulas buku 📕Penulis Buku Renung, Sadar, Merasa Cukup dan 5 buku lainnya | Merasa Cukup tersedia di Gramedia!

Explore more

  • #Kontemplasi
  • #Relationship
  • #Refleksi Diri
  • At Ease
  • Menjaga Alam, Menyayangi Diri: Perjalanan dari Sekadar Tinggal Menjadi Peduli
  • Quotes Bijak🖤

Responses (0)

Join the Discussion

Sign in to share your thoughts and engage with the community.

Sign In to Comment

No Comments Yet

Be the first to share your thoughts on this article!

More from Tengku Novenia Yahya

Discover more insights from this author

Suara dari Sudut Negeri: Ketimpangan yang Tak Terlihat

Suara dari Sudut Negeri: Ketimpangan yang Tak Terlihat

Indonesia itu luas. Tapi kesempatan belajar belum terbuka merata. Katanya pendidikan untuk semua. Tapi nyatanya pendidik...

May 03, 2025
Bukan Hidupmu yang Berat, Tapi Terlalu Banyak Energi Negatif yang Kamu Serap

Bukan Hidupmu yang Berat, Tapi Terlalu Banyak Energi Negatif yang Kamu Serap

Di zaman informasi serba cepat ini, filter terkuat adalah kesadaran diri. Jangan sampai kita ikut jadi bagian dari keram...

May 01, 2025
Explore All Stories
Inisiator

Tempat orang berbagi kisah, membangun komunitas, dan menginspirasi masa depan.

Profil Pendiri

Produk

  • Fitur
  • Harga
  • Untuk Tim
  • Pembaruan

Sumber Daya

  • Blog
  • Tentang Kami
  • Pusat Bantuan
  • Komunitas

Legal

  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Cookie

Tetap terhubung

Dapatkan cerita terbaru, pembaruan, dan wawasan kreator langsung ke email Anda.

© 2026 Inisiator oleh Jabbar A. P. (Saya siap bekerja!)