Pernah nggak sih kamu buka media sosial pagi-pagi, terus baru lima menit scroll… udah capek duluan? Mood pagi yang harusnya semangat, malah jadi nggak karuan. Bukan karena sinyal lemot atau baterai HP tinggal 3%, tapi karena isi timelinenya yang bikin sumpek! Kita disuguhkan dengan konten yang nggak bermutu. Ada yang saling serang, ada yang viral karena drama murahan, ada juga yang mengumbar aib orang demi meraup keuntungan dari share dan likes yang banyak. Anehnya, justru konten-konten kayak gini yang paling cepat viral, paling cepat dibagikan dan paling cepat nangkring di FYP.
Sementara konten yang baik, yang ngajak kita berpikir, yang isinya inspirasi atau ilmu malah sering lewat begitu aja atau nggak muncul di timeline kita. Padahal juga nggak sedikit konten yang bagus, yang inspiratif dan harusnya bisa jadi asupan bermakna buat otak kita.
Ternyata, ini ada penelitiannya. Dalam sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature Human Behaviour, ditemukan bahwa berita dengan judul bernada negatif punya peluang lebih besar untuk diklik. Bahkan, setiap tambahan satu kata negatif katanya bisa ningkatin potensi klik hingga 2,3%! Sebuah studi dari MIT Media Lab tahun 2018 juga menemukan bahwa berita palsu (hoax) menyebar 6 kali lebih cepat daripada berita yang benar, terutama jika mengandung unsur sensasi atau emosi tinggi (Vosoughi, Roy, & Aral, Science, 2018). Artinya, emosi negatif seperti marah, sedih, atau takut, memang lebih menjual di algoritma social media kita.
Secara psikologis, manusia memang secara naluriah lebih cepat bereaksi pada bahaya atau konflik. Dalam perspektif psikologi, ini disebut dengan Negativity Bias, yaitu kecenderungan otak kita lebih responsif terhadap hal negatif daripada positif. Dalam studi lainnya, Psikolog Rick Hanson juga menjelaskan bahwa otak manusia seperti Velcro untuk hal negatif dan Teflon untuk hal positif. Ini disebabkan karena otak kita berevolusi untuk bertahan hidup, jadi cenderung lebih waspada terhadap bahaya atau konflik (Hanson, 2009).
Masalahnya, kalau konten kayak begini terus-menerus dikonsumsi, lama-lama bikin kita jenuh, skeptis, bahkan nggak percaya apa-apa lagi. Capek, nggak sih? Ditambah lagi, kecepatan media sosial sering bikin kita refleks bereaksi sebelum berpikir. Sering kali sebelum bertanya: “Ini bener nggak sih?”, kita udah ikut sebar. Sebelum mikir: “Ini sehat nggak ya buat dilihat tiap hari?”, eh kita malah udah keburu scroll terus tanpa sadar.
Studi dari Journal of Social and Clinical Psychology (2018) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial lebih dari 30 menit per hari secara pasif dengan aktivitas hanya scrolling tanpa interaksi memiliki korelasi dengan peningkatan rasa kesepian dan depresi. Maka nggak heran, banyak dari kita yang makin ke sini merasa makin sumpek hidupnya. Padahal terkadang bukan hidup kita yang makin berat, tapi justru yang makin berat itu isi kepala kita karena kebanyakan menyerap energi yang salah. Makanya, penting banget buat mulai bijak dan sadar dalam menggunakan media sosial.
Kita memang nggak bisa mengendalikan apa yang orang lain unggah ke timeline media sosialnya. Tapi kita bisa kok mengendalikan konten apa yang mau kita serap. Kita bisa banget milih konten apa yang kita pilih buat diklik. Kita juga bisa pilah-pilih konten yang mana yang akan dibagikan.
Kebayang nggak sih kalau semua orang cuma nyebar amarah, gosip, dan sensasi, maka siapa yang bakal jagain platform digital yang kita gunakan sehari-hari supaya tetap sehat? Kita semua punya pilihan: mau ikut memperkeruh kolam yang ada, atau mau jadi air jernih yang memutihkan.
Aku percaya bahwa satu konten baik yang kita bagikan bisa jadi pemantik untuk perubahan kecil di hati orang lain. Perubahan kecil itu kalau disebarkan oleh banyak orang, bisa jadi gerakan yang besar. Mulanya mungkin kita pikir nggak ada yang mau baca. Tapi aku selalu percaya kalau sebuah tulisan pada akhirnya akan menemukan pembacanya. Seperti kamu yang lagi baca tulisanku ini.
Hayuk mulai sekarang bijak dari diri sendiri. Kita jaga isi kepala. Kita rawat energi kita. Ayo sama-sama kita bagikan hal-hal yang baik, yang menguatkan, yang meneduhkan, bukan yang membuyarkan. Aku meyakini bahwa media sosial itu adalah cerminan diri kita. Kalau isinya makin semrawut, mungkin karena terlalu banyak dari kita lupa buat menyiraminya dengan hal-hal yang bermakna.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!