Maghrib masih dua jam lagi, tapi aroma minyak goreng dan kayu manis sudah memenuhi udara di Pasar Takjil di gang-gang kota Medan. Di antara deretan gerobak, terlihat seorang penjual gorengan yang dengan cekatan menggoreng pisang sambil menghitung uang receh. Di sebelahnya, seorang pemuda bernama sebut saja Nae dengan sabar mengantri untuk mendapatkan semangkuk es blewah dengan topping mutiara jagung. “Ini bukan sekadar jualan,” gumamnya dalam hati, matanya menyipit melihat antrean yang mulai mengular. “Ini pertarungan melawan waktu, rasa, dan keinginan pelanggan yang tak pernah puas.”
Well, yeah, di balik riuhnya pasar takjil, mari kita coba menguak teori-teori produktivitas tersembunyi yang bekerja diam-diam — seperti rempah dalam kolak, tak terlihat tapi menentukan rasa.
1. Prinsip Pareto (80/20) dan Si Raja Kue Lumpur
Teori pertama kita datang dari seorang pedagang takjil senior. Di ujung barat pasar, ada seorang pedagang yang hanya menjual dua menu: kue lumpur dan cendol. Anehnya, antreannya selalu terpanjang. “Dulu aku jual 10 jenis kue, tapi 80% pendapatanku cuma dari kue lumpur ini,” katanya sambil menuang adonan ke cetakan besi. Prinsip Pareto ia terapkan tanpa sadar: fokus pada 20% usaha yang memberi 80% hasil.
Dengan mengurangi variasi menu, ia bisa membeli bahan berkualitas tinggi, mempercepat produksi, dan menghafal preferensi pelanggan tetap. “Kue lumpur harus matang 3 menit 20 detik. Sedetik lebih, gosong. Sedetik kurang, mentah,” ujarnya, menunjukkan stopwatch tua di pergelangan tangan. Di sini, Pareto bukan teori — ia adalah ritme api kompor dan desisan adonan yang sempurna.
2. Efek Zeigarnik: Misteri Martabak yang Sengaja Ditinggal Setengah Matang
Lanjut lagi ke teori kedua, di stan nomor 12, ada seorang remaja bernama sebut saja namanya Dinda (19 tahun) punya kebiasaan unik: ia sengaja membiarkan adonan martabak setengah matang di atas wajan, lalu beralih mengemas pesanan online. “Kalau sudah matang sempurna, aku malah lupa buat cek aplikasi,” katanya tertawa.
Tanpa ia sadari, Dinda memanfaatkan Efek Zeigarnik — kecenderungan otak mengingat tugas yang belum tuntas lebih baik daripada yang sudah selesai. Dengan meninggalkan martabak “menganga”, otaknya terus memberi alarm: “Selesaikan! Selesaikan!”. Hasilnya? Pesanan offline dan online tak ada yang terlantar. “Seperti martabak, hidup harus ada bagian yang renyah dan yang lengket,” katanya filosofis.
3. Teorema Hawthorne di Balik Gerobak Es Campur
Lanjut lagi, tahun lalu, penjual takjil senior kita lainnya, Bu Isma, gerobak es-nya selalu sepi. Hingga seorang mentor UMKM datang, duduk di kursi plastik merahnya, dan memperhatikan setiap gerakan Bu Yani. Ajaib: kecepatan Bu Yani mengupas kelapa muda meningkat, takjilnya dihias rapi, bahkan ia mulai tersenyum ke pelanggan. “Waktu ada yang ngeliatin, saya kayak dapat energi baru,” akunya.
Inilah Efek Hawthorne: produktivitas meningkat saat seseorang merasa diperhatikan. Tapi keajaiban sebenarnya terjadi setelah sang mentor pergi. Bu Yani tetap menjaga ritme barunya. “Sekarang, saya anggap tiap pelanggan itu ‘mentor’ yang mengawasi,” katanya. Pengawasannya sendiri kini menjadi motor penggerak.
Hal yang sama juga menjelaskan, kenapa kalo kita lagi ikut challenge kayak ODOJ ataupun Nulis Rutin, itu bisa lebih produktif daripada ketika pas gak ikut challenge apapun.
4. Hukum Parkinson dan Keajaiban Deadline Maghrib
1 dari 2 teori terakhir yang akan kita bahas selanjutnya, datang dari seorang penjual kurma medjool, Pak Azis, yang dulu selalu mengeluh: “Waktu gak cukup!” Padahal, ia mulai jam 10 pagi. Tapi sejak anaknya yang kuliah manajemen memberi saran: “Pasang jam dinding besar dengan tulisan: MAGHRIB 17.48!” — segalanya berubah.
Hukum Parkinson berbunyi: “Pekerjaan akan mengembang hingga memenuhi waktu yang tersedia.” Dengan “deadline maghrib” yang tak bisa ditawar, Pak Azis memangkas ritual tak perlu: ia berhenti merapikan kemasan 10 kali sehari, mengurangi obrolan dengan pedagang lain, dan membeli alat pencetak label. Hasilnya? Produksinya naik 2x lipat. “Ternyata, waktu itu seperti adonan risoles. Kalau dipaksa, bisa direnggangkan,” katanya sambil menunjuk tumpan kurma yang siap jual.
5. Strategi ‘Pembakaran Terfokus’ ala Pedagang Onde-Onde
Di ujung pasar, sekaligus ujung pembahasan teori produktivitas kita, Mbah Fadhil punya rahasia: ia hanya menggoreng onde-onde antara pukul 15.00–16.30. Di luar waktu itu, kompornya padam. “Dulu saya goreng dari pagi, tapi yang laris cuma pas jam segitu,” katanya.
Tanpa ia tahu, Mbah Fadhil menerapkan Deep Work (Cal Newport) — fokus penuh pada tugas penting dalam waktu terbatas. Dengan “pembakaran terfokus”, onde-onde-nya selalu fresh, minyak tak cepat hitam, dan energi tak terkuras sia-sia. “Orang bilang saya malas. Tapi saya pilih jadi tukang goreng yang cerdas,” sentilnya.
Epilog: Ketika Azan Berkumandang, Semua Teori Menjadi Satu
Pasar takjil ini adalah laboratorium hidup. Di sini, teori-teori produktivitas bukan angka di buku teks, tapi cerita di balik wajan yang berasap, gerobak yang berderit, dan tetesan keringat yang bercampur gula merah.
“Produktivitas itu seperti kue lumpur. Kalau terlalu banyak diomongin, ia mengeras. Tapi kalau diolah dengan ritme pas, rasanya meleleh di hati.”
Hari ini, melalui fenomena war takjil, kita sesungguhnya sedang belajar untuk memenangkan war yang sebenarnya, war melawan kemalasan, melawan kebodohan, melawan kesia-sia-an masa muda.
Selamat berbuka. Mari kita nikmati takjil, juga hikmah di balik kesibukan yang terencana.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!