Masih ngomongin soal 2025. Well yeah, aku memulai tahun ini dengan cara yang sedikit berbeda.
Untuk pertama kalinya, aku masuk ke tahun baru bukan hanya sebagai individu, tapi sebagai seorang suami. Ada istri di sampingku. Ada nama lain yang kini ikut masuk ke dalam setiap rencana, setiap kekhawatiran, setiap harapan.
Perubahannya tidak selalu terasa dramatis. Tidak ada musik latar. Tidak ada momen sinematik. Yang ada justru hal-hal kecil. Cara bangun pagi. Cara memikirkan uang. Cara memikirkan pulang.
Dulu, banyak keputusan bisa diambil dengan ringan. Sekarang, ada satu suara lain yang harus ikut dipertimbangkan. Bukan karena terpaksa, tapi karena memang seharusnya begitu.
Aku jadi lebih sering bertanya ke diri sendiri.
Apakah ini cukup aman.
Apakah ini cukup bertanggung jawab.
Apakah aku sedang membangun sesuatu, atau cuma bertahan.
Sebenarnya, aku sudah lama mencoba membangun kebiasaan-kebiasaan baik. Dari jauh sebelum menikah. Dari tahun-tahun yang sudah lewat.
Mencatat keuangan. Belajar investasi. Belajar bahasa asing. Mengasah kemampuan kerja.
Semuanya bukan hal baru. Yang baru hanya satu. Kesadaranku bahwa aku tidak bisa lagi melakukannya setengah-setengah.
Seperti kebanyakan orang, masalahku bukan tidak tahu harus melakukan apa. Masalahku adalah konsistensi. Aku tahu pentingnya mencatat keuangan sejak lama. Aku tahu harus belajar investasi sejak lama. Aku tahu skill harus terus diasah. Tapi tahu tidak pernah otomatis berubah jadi rutin.
Tahun ini, akhirnya ada satu kebiasaan yang mulai terasa berbeda. Pencatatan keuangan pribadi dan keluarga.
Setiap pemasukan dicatat. Setiap pengeluaran ditulis. Tidak peduli kecil atau besar. Awalnya terasa melelahkan. Seperti diawasi oleh diri sendiri. Tapi justru di situ letak manfaatnya.
Aku jadi tahu ke mana uang pergi. Bukan menebak. Bukan merasa. Tapi benar-benar tahu.
Dari situ, muncul kebiasaan lain. Menunda beli sesuatu. Bertanya sebelum checkout. Membicarakan keputusan finansial, bukan menghindarinya.
Mencatat keuangan ternyata bukan soal angka. Tapi soal kejujuran. Jujur pada kondisi sendiri. Jujur pada pasangan. Jujur bahwa hidup tidak bisa terus diserahkan pada asumsi.
Dari kejujuran itu, aku mulai belajar investasi. Tidak muluk-muluk. Tidak mimpi cepat kaya. Aku memilih reksadana saham. Pelan. Dengan risiko yang kupahami sebatas kemampuanku.
Belajar investasi di titik ini bukan tentang uang semata. Tapi tentang waktu. Tentang menerima bahwa masa depan tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun dari keputusan kecil yang diulang terus-menerus.
Di sela semua itu, aku kembali serius belajar bahasa Jepang.
Belajar bahasa selalu mengajarkanku satu hal yang sama. Kerendahan hati. Setiap hari merasa bodoh. Setiap hari salah. Setiap hari mengulang.
Tidak ada jalan pintas. Tidak ada bakat instan. Yang ada hanya kehadiran. Duduk. Membaca. Mendengar. Mengulang.
Bahasa Jepang memberiku ritme. Mengingatkanku bahwa memahami sesuatu yang asing butuh kesabaran. Dan mungkin, itu latihan yang baik untuk hidup berumah tangga juga.
Di sisi pekerjaan, aku mulai memperbaiki portofolio. Menyisir ulang apa yang pernah kubuat. Mana yang masih relevan. Mana yang hanya kebanggaan sesaat.
Aku juga mulai belajar teknologi baru. Nest.js. Next.js. Bukan karena ikut tren semata, tapi karena aku sadar satu hal. Diam terlalu lama di tempat yang sama itu berbahaya.
Belajar teknologi baru di usia dewasa rasanya berbeda. Tidak lagi penuh euforia. Lebih banyak keraguan. Lebih sering bertanya apakah ini masih worth it. Tapi justru karena itu, setiap kemajuan kecil terasa lebih berarti.
Semua kebiasaan ini mungkin terdengar biasa. Tidak heroik. Tidak menginspirasi secara instan.
Tapi bagiku, inilah bentuk kedewasaan yang paling jujur. Bukan berubah drastis dalam semalam. Tapi pelan-pelan berhenti mengkhianati rencana sendiri.
Aku tidak tahu apakah semua ini akan bertahan setahun penuh.
Aku juga tidak yakin akan selalu konsisten.
Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa kebiasaan-kebiasaan ini tidak lahir dari ambisi semata, melainkan dari tanggung jawab. Dan mungkin, itu yang membuatnya berbeda.
Tahun ini, aku tidak berjanji menjadi versi terbaik dari diriku.
Aku hanya mencoba menjadi versi yang sedikit lebih sadar.
Dan sejauh ini, itu sudah terasa cukup berarti.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!