Rencana 2025 sebenarnya ada banyak.
Ada yang receh, ada yang besar, ada yang mungkin cuma akan berakhir di catatan Notes lalu dilupakan. Mythic Immortal. Jadi YouTuber. Konsisten olahraga. Baca buku lebih banyak dari tahun sebelumnya. Hidup sedikit lebih rapi dari kemarin.
Semua orang punya daftar seperti itu.
Sebagian ditulis dengan serius, sebagian cuma untuk menenangkan diri. Bukan karena yakin akan tercapai, tapi karena menurutku, manusia perlu merasa sedang menuju sesuatu.
Dari semua rencana itu, yang bisa kuceritakan sebenarnya cuma satu. Dan ini pun baru muncul satu dua pekan yang lalu.
Menggulingkan pemerintahan.
Tenang.
Bukan dengan kekerasan.
Bukan dengan senjata.
Bukan dengan teriakan kosong di jalanan.
Yang kumaksud adalah menggulingkan cara berpikir yang melahirkan pemerintahan seperti sekarang.
Aku sadar, negara tidak runtuh karena satu orang jahat. Negara runtuh karena terlalu banyak orang biasa yang dibiarkan tumbuh tanpa arah. Maka kalau mau perubahan yang bertahan lama, yang digulingkan bukan kursinya, tapi fondasinya.
Sejarah sudah lama membuktikan ini. Negara yang benar-benar berubah tidak dimulai dari revolusi berdarah, tapi dari generasi yang dibentuk dengan disiplin, pengetahuan, dan tujuan.
Singapura tidak jadi Singapura karena kebetulan. Jepang tidak bangkit dari abu perang karena mukjizat. Mereka kalah, hancur, dipermalukan, lalu duduk dan bertanya dengan jujur: apa yang salah dari cara kami mendidik manusia.
Jawabannya hampir selalu sama. Pendidikan. Etos kerja. Rasa malu. Tanggung jawab kolektif.
Di Jepang, keterlambatan dianggap mencuri waktu orang lain.
Di Singapura, korupsi bukan cuma kejahatan hukum, tapi aib sosial.
Di banyak negara maju, pejabat takut pada rakyat bukan karena rakyat galak, tapi karena sistem membuat kebohongan mahal.
Bandingkan dengan kita. Di sini, kebohongan bisa jadi karier. Kegagalan bisa dibingkai jadi prestasi. Korupsi bisa jadi bahan candaan.
Aku tidak naif. Aku tahu Indonesia tidak bisa disamakan begitu saja dengan negara lain. Sejarahnya berbeda. Budayanya kompleks. Luka kolonialnya panjang.
Tapi satu hal universal tetap berlaku: negara adalah cerminan manusia yang mengisinya.
Maka rencana menggulingkan pemerintahan yang kupikirkan bukan soal 2025, atau 2030. Ini rencana jangka panjang. Mungkin terlalu panjang untuk dilihat hasilnya olehku sendiri.
Caranya sederhana, tapi berat. Menciptakan generasi yang lebih baik.
Generasi yang membaca sebelum berbicara. Yang bertanya sebelum percaya. Yang malu saat berbuat curang. Yang tidak menganggap bodoh itu lucu, dan tidak menganggap licik itu cerdas.
Aku ingin terlibat, sekecil apa pun, dalam ekosistem itu. Lewat tulisan. Diskusi. Pendidikan informal. Percakapan jujur. Membiasakan skeptis tanpa sinis. Kritis tanpa merasa paling benar.
Karena menggulingkan pemerintahan dengan cara paling elegan adalah memastikan mereka tidak pernah lahir lagi.
Bukan dengan menjatuhkan satu rezim, tapi dengan memutus suplai manusia yang cocok untuk rezim busuk. Bukan dengan teriak revolusi, tapi dengan pelan-pelan membuat kebodohan tidak lagi laku.
Mungkin ini terdengar terlalu idealis. Mungkin juga terlalu lambat.
Tapi aku semakin percaya, perubahan yang terburu-buru sering hanya mengganti wajah, bukan watak. Dan aku lelah hidup di negara yang terus mengganti wajah tapi mempertahankan watak yang sama.
Jadi ya, itulah rencana 2025 yang bisa kuceritakan.
Bukan Mythic Immortal.
Bukan YouTuber.
Tapi upaya kecil untuk ikut menggulingkan masa depan yang buruk, dengan membangun kemungkinan masa depan yang lebih layak.
Kalau gagal, setidaknya aku tahu aku tidak diam. Dan di negara seperti ini, itu saja sudah terasa seperti perlawanan.
Responses (1)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.