Yogyakarta, 1889. Di bawah langit kelam yang dibayangi menara gereja Belanda, seorang bocah lelaki bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menyaksikan pemandangan yang tak mudah dilupakan. Setiap pagi, ia melihat anak-anak pribumi berlari ke sekolah desa yang reyot, sementara anak-anak Belanda diangkut kereta kuda menuju gedung megah berjendela kaca. Di sana, mereka belajar ilmu pasti dan bahasa asing, sedangkan anak-anak petani hanya diajari membaca sekadar untuk jadi buruh perkebunan. Di balik sorot matanya yang tenang, Soewardi kecil menyimpan pertanyaan yang kelak mengubah sejarah: "Mengapa pengetahuan hanya untuk segelintir orang?"
Bagian 1: Dari Bangsawan ke Pembangkang
Soewardi tumbuh dalam lingkungan keraton Yogyakarta yang serba gemerlap. Tapi hatinya tak pernah nyaman. Di usia 20 tahun, ia memilih keluar dari STOVIA (sekolah dokter Belanda) demi menulis artikel yang menyulut amarah kolonial. "Als Ik Eens Nederlander Was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) — judul itu seperti petir di siang bolong. Dengan sarkasme pedas, ia menggugat perayaan kemerdekaan Belanda sambil menjajah Indonesia: "Apakah pantas kita minum champagne, sementara darah pribumi mengalir sebagai taruhannya?"
Akibatnya, pada 1913, Belanda membuangnya ke Negeri Tulip. Tapi di pengasingan, jiwa Soewardi justru menemukan cahaya. Ia mengkaji pemikiran Montessori tentang pendidikan merdeka dan terinspirasi oleh Ki Hadjar Dewantara (nama yang kelak ia ambil), tokoh pewayangan yang membebaskan manusia dari kebodohan.
Bagian 2: Taman Siswa: Sekolah di Tengah Hujan Peluru
Pulang ke tanah air pada 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa — "Taman Murid" yang jadi simbol perlawanan halus. Di tengah represi Belanda yang melarang sekolah pribumi, ia menciptakan sistem pendidikan berbasis "Tri Rahayu": kebudayaan, kemandirian, dan kemanusiaan.
Gambaran dramatis terjadi di sebuah kelas di Yogyakarta. Saat tentara Belanda menggedor pintu, Ki Hajar justru memimpin anak-anak menyanyikan tembang Jawa: "Sinau bareng-bareng, ora wedi karo kungkungan!" (Belajar bersama, tak takut pada penjara!). Murid-murid diajari matematika dengan menghitung hasil bumi, sejarah melalui kisah perjuangan Diponegoro, dan karakter lelakon wayang yang berani.
Prinsipnya legendaris:
Ing Ngarsa Sung Tuladha (Di depan memberi contoh),
Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah membangun semangat),
Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dorongan).
Filosofi ini menjadi jiwa guru-guru Taman Siswa, yang bahkan mengajar tanpa gaji demi melihat anak-anak miskin bisa membaca.
Bagian 3: Pendidikan sebagai Senjata Revolusi
1945. Indonesia merdeka, tapi perang belum usai. Ki Hajar Dewantara, kini Menteri Pendidikan pertama, berjalan kaki dari desa ke desa. Di tengah hutan, ia duduk di bawah pohon beringin, berbicara pada para guru: "Jangan biarkan api ilmu padam. Sekolah bisa di ladang, di bawah tanah, di mana saja. Asal hati guru menyala!"
Ia menolak mentah-mentah sistem pendidikan kolonial yang hanya mencetak "jago hafalan". Baginya, sekolah harus jadi tempat murid belajar berpikir, bukan tunduk.
Epilog: Warisan yang Tak Pernah Padam
21 April 1959. Dunia pendidikan Indonesia berduka. Sang pelita itu wafat, tapi semboyannya, "Tut Wuri Handayani", tetap terpampang di setiap seragam sekolah dan logo Kementerian Pendidikan.
Kini, setiap kali seorang guru di pelosok Papua mengajar dengan krayon bekas, atau murid di pelosok Aceh membaca buku di bawah lampu minyak, roh Ki Hajar Dewantara hidup kembali. Seperti katanya: "Pendidikan adalah usaha membebaskan diri dari tiga belenggu: tidak tahu, tidak bisa, dan tidak berani."
Ia bukan hanya pahlawan. Ia adalah sang penabuh genderang yang membangunkan nusantara dari mimpi kelam kolonial — dengan buku, bukan bedil.
Tut Wuri Handayani. Di belakangmu, kami terus maju.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!