Skip to main content

Loading...

Inisiator
Our Story Community
Login Get Started
Welcome to Inisiator
Discover amazing stories
Home Our Story Ranking

Language

ID
EN
Login Register

Ki Hajar Dewantara

Ramadhan Writing Challenge, (supposed to be) Day 6.

  1. Home
  2. /
  3. Articles
  4. /
  5. Ki Hajar Dewantara
Mar 10
4 min read
317 views
Author: Jabbar A. Panggabean

Article Actions

Interact with this article

Clap
0 claps
Save
Add to bookmarks
Reading List
Add to reading list
Ki Hajar Dewantara

Yogyakarta, 1889. Di bawah langit kelam yang dibayangi menara gereja Belanda, seorang bocah lelaki bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menyaksikan pemandangan yang tak mudah dilupakan. Setiap pagi, ia melihat anak-anak pribumi berlari ke sekolah desa yang reyot, sementara anak-anak Belanda diangkut kereta kuda menuju gedung megah berjendela kaca. Di sana, mereka belajar ilmu pasti dan bahasa asing, sedangkan anak-anak petani hanya diajari membaca sekadar untuk jadi buruh perkebunan. Di balik sorot matanya yang tenang, Soewardi kecil menyimpan pertanyaan yang kelak mengubah sejarah: "Mengapa pengetahuan hanya untuk segelintir orang?"


Bagian 1: Dari Bangsawan ke Pembangkang

Soewardi tumbuh dalam lingkungan keraton Yogyakarta yang serba gemerlap. Tapi hatinya tak pernah nyaman. Di usia 20 tahun, ia memilih keluar dari STOVIA (sekolah dokter Belanda) demi menulis artikel yang menyulut amarah kolonial. "Als Ik Eens Nederlander Was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) — judul itu seperti petir di siang bolong. Dengan sarkasme pedas, ia menggugat perayaan kemerdekaan Belanda sambil menjajah Indonesia: "Apakah pantas kita minum champagne, sementara darah pribumi mengalir sebagai taruhannya?"

Akibatnya, pada 1913, Belanda membuangnya ke Negeri Tulip. Tapi di pengasingan, jiwa Soewardi justru menemukan cahaya. Ia mengkaji pemikiran Montessori tentang pendidikan merdeka dan terinspirasi oleh Ki Hadjar Dewantara (nama yang kelak ia ambil), tokoh pewayangan yang membebaskan manusia dari kebodohan.


Bagian 2: Taman Siswa: Sekolah di Tengah Hujan Peluru

Pulang ke tanah air pada 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa — "Taman Murid" yang jadi simbol perlawanan halus. Di tengah represi Belanda yang melarang sekolah pribumi, ia menciptakan sistem pendidikan berbasis "Tri Rahayu": kebudayaan, kemandirian, dan kemanusiaan.

Gambaran dramatis terjadi di sebuah kelas di Yogyakarta. Saat tentara Belanda menggedor pintu, Ki Hajar justru memimpin anak-anak menyanyikan tembang Jawa: "Sinau bareng-bareng, ora wedi karo kungkungan!" (Belajar bersama, tak takut pada penjara!). Murid-murid diajari matematika dengan menghitung hasil bumi, sejarah melalui kisah perjuangan Diponegoro, dan karakter lelakon wayang yang berani.

Prinsipnya legendaris:

Ing Ngarsa Sung Tuladha (Di depan memberi contoh),

Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah membangun semangat),

Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dorongan).

Filosofi ini menjadi jiwa guru-guru Taman Siswa, yang bahkan mengajar tanpa gaji demi melihat anak-anak miskin bisa membaca.


Bagian 3: Pendidikan sebagai Senjata Revolusi

1945. Indonesia merdeka, tapi perang belum usai. Ki Hajar Dewantara, kini Menteri Pendidikan pertama, berjalan kaki dari desa ke desa. Di tengah hutan, ia duduk di bawah pohon beringin, berbicara pada para guru: "Jangan biarkan api ilmu padam. Sekolah bisa di ladang, di bawah tanah, di mana saja. Asal hati guru menyala!"

Ia menolak mentah-mentah sistem pendidikan kolonial yang hanya mencetak "jago hafalan". Baginya, sekolah harus jadi tempat murid belajar berpikir, bukan tunduk.


Epilog: Warisan yang Tak Pernah Padam

21 April 1959. Dunia pendidikan Indonesia berduka. Sang pelita itu wafat, tapi semboyannya, "Tut Wuri Handayani", tetap terpampang di setiap seragam sekolah dan logo Kementerian Pendidikan.

Kini, setiap kali seorang guru di pelosok Papua mengajar dengan krayon bekas, atau murid di pelosok Aceh membaca buku di bawah lampu minyak, roh Ki Hajar Dewantara hidup kembali. Seperti katanya: "Pendidikan adalah usaha membebaskan diri dari tiga belenggu: tidak tahu, tidak bisa, dan tidak berani."

Ia bukan hanya pahlawan. Ia adalah sang penabuh genderang yang membangunkan nusantara dari mimpi kelam kolonial — dengan buku, bukan bedil.


Tut Wuri Handayani. Di belakangmu, kami terus maju.

Story Tags

#Day6 #Edisiramadhan #Tautannarablog8
Jabbar A. Panggabean
Written by Jabbar A. Panggabean
Verified Book Author
Book Author
✨ Permanent verification
14 followers · 30 following

Software Engineer at Inovasi Karya ID

Jabbar A. Panggabean
Written by Jabbar A. Panggabean
Verified Book Author
Book Author
✨ Permanent verification
14 followers · 30 following

Software Engineer at Inovasi Karya ID

Explore more

  • #Day6
  • #Edisiramadhan
  • #Tautannarablog8
  • At Ease
  • Menjaga Alam, Menyayangi Diri: Perjalanan dari Sekadar Tinggal Menjadi Peduli
  • Quotes Bijak🖤

Responses (0)

Join the Discussion

Sign in to share your thoughts and engage with the community.

Sign In to Comment

No Comments Yet

Be the first to share your thoughts on this article!

More from Jabbar A. Panggabean

Discover more insights from this author

Kalimat Pengingat

Setiap tahun rasanya selalu ada satu kalimat yang diam-diam kita cari.

Dec 24, 2025

Warna

Yang mewakiliku di Tahun 2025.

Dec 23, 2025

Wajah-wajah Baru Tahun Ini

Tahun 2025 datang dengan wajah-wajah baru. Lebih banyak dari yang kuduga. <br>Sebagiannya singgah sebentar. Sebagiannya...

Dec 22, 2025

Kebiasaan Lama (Yang Baru)

Masih ngomongin soal 2025. Well yeah, aku memulai tahun ini dengan cara yang sedikit berbeda. <br>Untuk pertama kalinya,...

Dec 21, 2025
Explore All Stories
Inisiator

A place where people share stories, build community, and inspire the future.

Founders Profile

Product

  • Features
  • Pricing
  • For Teams
  • Updates

Resources

  • Blog
  • About Us
  • Help Center
  • Community

Legal

  • Terms of Use
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy

Stay in the loop

Get the latest stories, updates, and creator insights delivered to your inbox.

© 2026 Inisiator by Jabbar A. P. (I'm open to work!)