Di tahun 1020 M, Ibnu Sina —dokter dan filsuf Muslim— menulis The Canon of Medicine, menyebutkan bahwa "kesehatan mental bergantung pada keseimbangan jiwa". Tapi di tahun 2024, Gen Z justru mencari keseimbangan itu lewat scroll TikTok, revenge bedtime procrastination, dan terapi retail (belanja online). Hasilnya? 63% remaja Indonesia mengaku tidak bahagia meski hidup lebih nyaman dibanding era Ibnu Sina (Survei Alvara, 2024). Di mana kita salah?
Dopamin vs Qana'ah
Setiap notifikasi Instagram memberi dopamin rush —sensasi senang sesaat yang bertahan 15 detik. Sementara, Islam mengajarkan qana'ah (kepuasan hati) yang disebut Nabi SAW sebagai “harta yang tak pernah habis” (HR. Ahmad). Tapi data Digital Wellbeing Index 2024 mengejutkan:
- Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 4,7 jam/hari di media sosial.
- 72% mengaku merasa insecure setelah melihat konten gaya hidup mewah.
Ibnu Sina mungkin akan mendiagnosis ini sebagai “ketidakseimbangan nafs (jiwa) akibat racun perbandingan sosial”.
Dari Maslow hingga Al-Ghazali: Piramida Kebutuhan yang Direvisi
Psikolog Abraham Maslow (1943) membuat piramida kebutuhan: fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Tapi Imam Al-Ghazali dalam Kimiya as-Sa'adah (Alkimia Kebahagiaan) membaliknya:
- Aktualisasi Akhirat (Taqwa)
- Penghargaan dari Allah (Rida)
- Kebutuhan Spiritual (Ibadah)
- Sosial (Silaturahmi)
- Fisiologis
"Bahagia versi Ghazali bukan tentang memiliki, tapi tentang menjadi hamba yang cukup," tulis Prof. Hamka dalam Tasawuf Modern.
TikTok dan Fenomena "Jannah Portabel"
Generasi muda kini mengejar kebahagiaan lewat tren instant:
- "Toxic Productivity": Workout 2 jam sehari demi tubuh aesthetic, tapi mental terkuras.
- "Main Character Syndrome": Hidup seolah di film, padahal stres mengatur plot.
- "Digital Sufisme": Meditasi via aplikasi, tapi lupa shalat.
Padahal, Nabi SAW mengajarkan kebahagiaan sederhana:
- “Siapa yang pagi harinya sehat tubuhnya, aman keluarganya, dan punya makanan hari itu, ia seolah memiliki dunia seluruhnya.” (HR. Tirmidzi).
- “Senyummu pada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Bukhari).
Neurosains Kebahagiaan ala Rasulullah
Penelitian Universitas California (2023) menemukan:
- Shalat 5 waktu meningkatkan gelombang alpha (relaksasi) di otak sebesar 37%.
- Bersedekah memicu produksi oksitosin (hormon kedamaian) 2x lebih tinggi daripada menerima uang.
- Puasa Senin-Kamis merangsang autophagy (regenerasi sel) yang mengurangi risiko depresi.
Ini bukan kebetulan. Ibnu Qayyim dalam Medicine of the Prophet menjelaskan: “Ibadah adalah formula sempurna untuk jiwa dan raga.”
Resep Bahagia 1.400 Tahun Lalu yang Masih Relevan
- Air Zamzam vs Air Alkali: Nabi SAW minum zamzam sambil duduk, tiga teguk, sambil berdoa. Kini, kita boros beli air alkali Rp 50.000/botol demi lifestyle.
- Jalan Kaki vs Gym Membership: Nabi biasa berjalan kaki 5 km sehari untuk ke masjid. Studi Mayo Clinic (2024) menyebut: jalan kaki 30 menit/hari mengurangi kecemasan 40%.
- Tahajud vs Sleeping Pill: Bangun malam untuk bermunajat (QS. Al-Muzzammil: 6) ternyata 2x lebih efektif mengatasi insomnia ketimbang obat (Journal of Sleep Research).
Krisis Makna: Ketika "Viral" Menjadi Ukuran Kebahagiaan
Filsuf Albert Camus bilang: “Kebahagiaan adalah perjuangan melawan absurditas hidup.” Tapi kita malah menciptakan absurditas baru:
- Content House: 10 orang tinggal bersama hanya untuk membuat konten prank tanpa pesan.
- Digital Syirik: Rela ikut tantangan black magic challenge demi views.
Sementara, Quran mengingatkan: “Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Solusi: Reset Kebahagiaan ala Ibnu Sina
- Diet Dopamin: Matikan notifikasi media sosial 3 jam/hari. Ganti dengan “Quran Time” 1 juz/hari.
- Sedekah Kripto: Donasikan 2,5% aset kripto ke yayasan pendidikan (Fatwa MUI No. 113/2023 memperbolehkan zakat kripto).
- Mindful Eating: Makan tanpa gadget, kunyah 33x seperti anjuran Nabi.
Penutup: Bahagia itu Bukan di Ujung Scroll
Suatu hari, seorang Badui bertanya pada Rasulullah SAW: “Wahai Nabi, ajari aku cara kaya.” Nabi menjawab: “Kurangi angan-angan, syukuri apa yang ada, dan cintai orang miskin.” (HR. Ahmad).
Di era yang menjual mimpi “life goals” berupa mobil mewah dan liburan ke Bali, mungkin kita perlu kembali ke definisi kaya versi Nabi: "Kaya bukanlah banyaknya harta, tapi kekayaan jiwa."
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!