Skip to main content

Loading...

Inisiator
Our Story Community
Login Get Started
Welcome to Inisiator
Discover amazing stories
Home Our Story Ranking

Language

ID
EN
Login Register

Dopamine dan Filosofi Qanaah

Suatu hari, seorang Badui bertanya pada Rasulullah SAW: “Wahai Nabi, ajari aku cara kaya.” Nabi menjawab: “Kurangi angan-angan, syukuri apa yang ada, dan cintai orang miskin.” (HR. Ahmad).

  1. Home
  2. /
  3. Articles
  4. /
  5. Dopamine dan Filosofi Qanaah
Mar 28
6 min read
601 views
Author: Jabbar A. Panggabean

Article Actions

Interact with this article

Clap
0 claps
Save
Add to bookmarks
Reading List
Add to reading list
Dopamine dan Filosofi Qanaah

Di tahun 1020 M, Ibnu Sina —dokter dan filsuf Muslim— menulis The Canon of Medicine, menyebutkan bahwa "kesehatan mental bergantung pada keseimbangan jiwa". Tapi di tahun 2024, Gen Z justru mencari keseimbangan itu lewat scroll TikTok, revenge bedtime procrastination, dan terapi retail (belanja online). Hasilnya? 63% remaja Indonesia mengaku tidak bahagia meski hidup lebih nyaman dibanding era Ibnu Sina (Survei Alvara, 2024). Di mana kita salah?


Dopamin vs Qana'ah

Setiap notifikasi Instagram memberi dopamin rush —sensasi senang sesaat yang bertahan 15 detik. Sementara, Islam mengajarkan qana'ah (kepuasan hati) yang disebut Nabi SAW sebagai “harta yang tak pernah habis” (HR. Ahmad). Tapi data Digital Wellbeing Index 2024 mengejutkan:

  • Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 4,7 jam/hari di media sosial.
  • 72% mengaku merasa insecure setelah melihat konten gaya hidup mewah.

Ibnu Sina mungkin akan mendiagnosis ini sebagai “ketidakseimbangan nafs (jiwa) akibat racun perbandingan sosial”.


Dari Maslow hingga Al-Ghazali: Piramida Kebutuhan yang Direvisi

Psikolog Abraham Maslow (1943) membuat piramida kebutuhan: fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Tapi Imam Al-Ghazali dalam Kimiya as-Sa'adah (Alkimia Kebahagiaan) membaliknya:

  1. Aktualisasi Akhirat (Taqwa)
  2. Penghargaan dari Allah (Rida)
  3. Kebutuhan Spiritual (Ibadah)
  4. Sosial (Silaturahmi)
  5. Fisiologis

"Bahagia versi Ghazali bukan tentang memiliki, tapi tentang menjadi hamba yang cukup," tulis Prof. Hamka dalam Tasawuf Modern.


TikTok dan Fenomena "Jannah Portabel"

Generasi muda kini mengejar kebahagiaan lewat tren instant:

  • "Toxic Productivity": Workout 2 jam sehari demi tubuh aesthetic, tapi mental terkuras.
  • "Main Character Syndrome": Hidup seolah di film, padahal stres mengatur plot.
  • "Digital Sufisme": Meditasi via aplikasi, tapi lupa shalat.

Padahal, Nabi SAW mengajarkan kebahagiaan sederhana:

  • “Siapa yang pagi harinya sehat tubuhnya, aman keluarganya, dan punya makanan hari itu, ia seolah memiliki dunia seluruhnya.” (HR. Tirmidzi).
  • “Senyummu pada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Bukhari).

Neurosains Kebahagiaan ala Rasulullah

Penelitian Universitas California (2023) menemukan:

  • Shalat 5 waktu meningkatkan gelombang alpha (relaksasi) di otak sebesar 37%.
  • Bersedekah memicu produksi oksitosin (hormon kedamaian) 2x lebih tinggi daripada menerima uang.
  • Puasa Senin-Kamis merangsang autophagy (regenerasi sel) yang mengurangi risiko depresi.

Ini bukan kebetulan. Ibnu Qayyim dalam Medicine of the Prophet menjelaskan: “Ibadah adalah formula sempurna untuk jiwa dan raga.”


Resep Bahagia 1.400 Tahun Lalu yang Masih Relevan

  1. Air Zamzam vs Air Alkali: Nabi SAW minum zamzam sambil duduk, tiga teguk, sambil berdoa. Kini, kita boros beli air alkali Rp 50.000/botol demi lifestyle.
  2. Jalan Kaki vs Gym Membership: Nabi biasa berjalan kaki 5 km sehari untuk ke masjid. Studi Mayo Clinic (2024) menyebut: jalan kaki 30 menit/hari mengurangi kecemasan 40%.
  3. Tahajud vs Sleeping Pill: Bangun malam untuk bermunajat (QS. Al-Muzzammil: 6) ternyata 2x lebih efektif mengatasi insomnia ketimbang obat (Journal of Sleep Research).

Krisis Makna: Ketika "Viral" Menjadi Ukuran Kebahagiaan

Filsuf Albert Camus bilang: “Kebahagiaan adalah perjuangan melawan absurditas hidup.” Tapi kita malah menciptakan absurditas baru:

  • Content House: 10 orang tinggal bersama hanya untuk membuat konten prank tanpa pesan.
  • Digital Syirik: Rela ikut tantangan black magic challenge demi views.

Sementara, Quran mengingatkan: “Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).


Solusi: Reset Kebahagiaan ala Ibnu Sina

  1. Diet Dopamin: Matikan notifikasi media sosial 3 jam/hari. Ganti dengan “Quran Time” 1 juz/hari.
  2. Sedekah Kripto: Donasikan 2,5% aset kripto ke yayasan pendidikan (Fatwa MUI No. 113/2023 memperbolehkan zakat kripto).
  3. Mindful Eating: Makan tanpa gadget, kunyah 33x seperti anjuran Nabi.

Penutup: Bahagia itu Bukan di Ujung Scroll

Suatu hari, seorang Badui bertanya pada Rasulullah SAW: “Wahai Nabi, ajari aku cara kaya.” Nabi menjawab: “Kurangi angan-angan, syukuri apa yang ada, dan cintai orang miskin.” (HR. Ahmad).

Di era yang menjual mimpi “life goals” berupa mobil mewah dan liburan ke Bali, mungkin kita perlu kembali ke definisi kaya versi Nabi: "Kaya bukanlah banyaknya harta, tapi kekayaan jiwa."

Story Tags

#Day25 #Edisiramadhan #Tautannarablog8
Jabbar A. Panggabean
Written by Jabbar A. Panggabean
Verified Book Author
Book Author
✨ Permanent verification
14 followers · 30 following

Software Engineer at Inovasi Karya ID

Jabbar A. Panggabean
Written by Jabbar A. Panggabean
Verified Book Author
Book Author
✨ Permanent verification
14 followers · 30 following

Software Engineer at Inovasi Karya ID

Explore more

  • #Day25
  • #Edisiramadhan
  • #Tautannarablog8
  • At Ease
  • Menjaga Alam, Menyayangi Diri: Perjalanan dari Sekadar Tinggal Menjadi Peduli
  • Quotes Bijak🖤

Responses (0)

Join the Discussion

Sign in to share your thoughts and engage with the community.

Sign In to Comment

No Comments Yet

Be the first to share your thoughts on this article!

More from Jabbar A. Panggabean

Discover more insights from this author

Kalimat Pengingat

Setiap tahun rasanya selalu ada satu kalimat yang diam-diam kita cari.

Dec 24, 2025

Warna

Yang mewakiliku di Tahun 2025.

Dec 23, 2025

Wajah-wajah Baru Tahun Ini

Tahun 2025 datang dengan wajah-wajah baru. Lebih banyak dari yang kuduga. <br>Sebagiannya singgah sebentar. Sebagiannya...

Dec 22, 2025

Kebiasaan Lama (Yang Baru)

Masih ngomongin soal 2025. Well yeah, aku memulai tahun ini dengan cara yang sedikit berbeda. <br>Untuk pertama kalinya,...

Dec 21, 2025
Explore All Stories
Inisiator

A place where people share stories, build community, and inspire the future.

Founders Profile

Product

  • Features
  • Pricing
  • For Teams
  • Updates

Resources

  • Blog
  • About Us
  • Help Center
  • Community

Legal

  • Terms of Use
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy

Stay in the loop

Get the latest stories, updates, and creator insights delivered to your inbox.

© 2026 Inisiator by Jabbar A. P. (I'm open to work!)