Sebagai sebuah upaya menyembuhkan brain rot, aku mulai menulis lagi. Tapi kali ini, tanpa AI.
Sejak bekerja di bidang digital marketing yang pace nya cepat ini, aku menyadari bahwa kemampuan menulisku juga harus cepat kalau tidak mau ketinggalan tren. Belum lagi, di kantorku aku masih jadi one woman show sebagai strategiest sekaligus eksekutor dalam bidangku di performance tanpa copywriter khusus. Mau tidak mau, aku banyak menggunakan AI untuk menulis baik itu artikel blog maupun materi iklan berbayar. Belum lagi efisiensi yang menggila dan membuat atasanku meyakini bahwa AI bisa segalanya dan menggantikan peran manusia dalam memproduksi kreativitas, mau tidak mau keseharianku lebih banyak berinteraksi dengan AI ketimbang manusia.
Sampai di satu titik aku merasa kesulitan merangkai kalimat dan opiniku sendiri jika tak ada AI. Aku merasa tingkat ketergantunganku pada ChatGPT lumayan parah dan pemikiranku seolah berada dalam bubble. Kalimat-kalimat yang dihasilkan AI repetitif, mirroring, dan robotik. Kreativitas-ku pun makin tumpul dan aku jadi tidak percaya diri dengan hasil karyaku sendiri.
AI ngasih hasil yang cepat tanpa proses berpikir yang panjang, aku jadi kecanduan hasil instant. Hal ini terasa biasa aja awalnya. Sampai suatu hari aku merasa kesulitan karena merasa tidak lagi menikmati prosesku dalam menghasilkan suatu karya.
Aku kesulitan merangkai kata untuk caption instagram.
Aku kepayahan menemukan padanan kata dalam merepresentasikan sesuatu.
Aku bisa membuat prompt untuk AI dan menghasilkan banyak artikel dalam sekejap.
Tapi ada satu yang aku rasa hilang, yaitu kenikmatan dalam proses berpikir dan pembuatan tulisan itu sendiri.
And here I am now, writing in Inisiator. Berusaha meluangkan waktu untuk menulis tanpa AI. Belajar kembali menggunakan hasil pemikiran sendiri. Tetap mempublikasi tulisan tanpa minta ChatGPT untuk mengedit struktur tulisan, pilihan diksi maupun memperbaiki typo.
Sebenarnya, menulis sendiri merupakan sesuatu yang aku gemari sejak SMA tapi tak pernah benar-benar aku tekuni karena berbagai alasan. Seiring berjalannya waktu aku tidak lagi menyempatkan diri untuk menulis. Di tambah adanya AI yang memudahkan pekerjaan kepenulisan.
Aku gampang terdistraksi dan banyak hal membuatku tak bisa benar-benar menikmati kegiatan menulis itu sendiri. Salah satu faktor terbesarnya mungkin kejenuhan karena merasa tak benar-benar ada yang membaca tulisanku.
Aku penyuka old-fashioned blogging ketimbang menulis di medsos, tapi sayangnya blogging kini tak begitu diminati dan akhirnya traffic-nya juga sepi. Belum lagi harus kalah saing karena tulisanku tak cukup mumpuni untuk bersaing di mesin pencari. I didn't feel the significant impact of writing itself for myself.
Akhirnya aku menyadari bahwa pemikiran dan niatku untuk menulis salah sejak awal. Meskipun tak ada yang membaca, sedikit banyak tulisan-tulisan yang aku hasilkan melatih caraku berpikir dan menyampaikan opini. Aku percaya bahwa self-improvement pribadi itu jauh lebih penting dan berharga daripada sekedar traffic.
Hi! Aku Nafilah Cha, seorang digital marketing strategiest yang sedang melatih diri lebih mindful dengan menulis. Salam kenal.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!