Ngomongin soal nasihat orang tua, kemarin ini baru aja ada teman yang curhat. Katanya, dia nyesel banget nggak dengerin nasihat orang tuanya dulu. Pas saya tanya, "Emang nasihatnya apa?", dia jawab dengan wajah polos, "Nggak tau, kan saya nggak dengerin." Logis juga. Tapi kalau saya, nasihat-nasihat dari Mamak saya dulu saking didengerinnya, sampai kadang bikin saya nggak bisa tidur.
Nasihatnya bukan berbentuk petuah bijak, tapi lebih mirip update patch notes untuk bertahan hidup di Pangkalan Brandan. Kami menyebutnya: Pamali. Dan di dunia saya waktu itu, ada satu NPC (Non-Player Character) yang levelnya paling tinggi, yang membuat semua pamali ini jadi terasa 100x lebih seram, hihi. Sebut saja namanya Dita Aulia Putri (nama samaran). Biasa dipanggil Dita A.P. (kalau dibaca cepat jadi: APE? APE LU?).
Dita A.P. adalah Badan Intelijen Lorong (BIL) kami. Dia adalah CCTV berjalan yang tidak perlu di-charge. Dengan jaringan informan yang terdiri dari ibu-ibu tukang sayur dan anak-anak ingusan, tidak ada satu aib pun yang bisa lolos dari radarnya. Dia adalah alasan kenapa saya sangat serius menanggapi semua pamali dari Mamak.
Salah satu pamali yang paling menghantui saya adalah: "Kalau nyapu jangan setengah-setengah, nanti suaminya brewokan!"
Awalnya saya santai saja. "Saya kan laki-laki, Mak. Mana mungkin punya suami," kata saya dengan logika seorang calon ilmuwan. Tapi Mamak, dengan tatapan seorang agen rahasia, menjawab, "Siapa tau istrinya yang brewokan."
JLEB.
Kalimat itu menghantam imajinasi saya. Tapi ketakutan saya bukan pada istri brewokan di masa depan. Ketakutan saya lebih nyata dan mendesak: bagaimana kalau Dita A.P. tahu soal ini?
Saya membayangkan sebuah skenario horor: saya sedang menyapu halaman dengan malas-malasan, lalu Dita A.P. lewat bersama gengnya. Dia akan berhenti, menunjuk saya dengan dagunya, lalu berbisik ke teman-temannya, "Liat tuh, si Ali nyapunya nggak bersih. Fix, nanti istrinya brewokan kayak Wak Enggot." Lalu mereka akan tertawa, dan besoknya, seluruh kampung akan tahu bahwa saya adalah calon suami terkutuk. Hancur reputasi saya sebagai calon pria idaman.
Sejak hari itu*, saya menjadi petugas kebersihan paling rajin se-Sunge Bilah. Setiap kali disuruh menyapu, saya akan melakukannya dengan sangat teliti. Debu-debu di bawah meja, sampah di kolong kursi, semuanya saya sikat habis. Saya menyapu bukan karena takut dimarahi Mamak, tapi karena sedang melakukan damage control untuk citra saya di mata Dita A.P.
Ancaman gaib tidak berhenti di situ. Ada lagi pamali yang lebih mengerikan: "Jangan nunjuk kuburan, nanti jarinya kiting!" (bengkok). Ini adalah ancaman yang dampaknya langsung terlihat. Kalau jari telunjuk saya tiba-tiba bengkok, bagaimana saya bisa melakukan jentikan maut saat main guli? Bagaimana saya bisa menekan tombol stik PS dengan presisi? Dan yang paling penting, bagaimana saya menjelaskan pada Dita A.P. kenapa jari saya tiba-tiba punya desain yang artistik? Dia pasti akan menyebar berita: "Si Ali kemarin nunjuk-nunjuk kuburan, sekarang jarinya kayak gantungan kunci." Beugh, tamatlah riwayat saya.
Kini, puluhan tahun kemudian, saya sadar. Semua pamali itu ternyata adalah program "parenting" jenius dari Mamak.
Nasihat "suami brewokan" itu bukan tentang ramalan jodoh, tapi cara licik untuk mengajari saya tentang tanggung jawab dan kebersihan. Nasihat "jari kiting" bukan tentang kutukan arwah, tapi cara sederhana untuk mengajarkan sopan santun dan menghormati tempat-tempat tertentu.
Mamak saya tidak pernah memberikan kuliah panjang lebar tentang moral. Beliau hanya memasang "firewall" gaib di kepala saya, dan kebetulan secara ajaib Dita A.P. menjelma sebagai final boss-nya. Dan ternyata, itu jauh lebih efektif. Walaupun, jujur saja, sampai sekarang setiap kali saya melihat istri saya bercermin, kadang saya masih suka refleks memeriksa dagunya. Dan bersyukur dia gak brewokan kayak Wak Enggot. Bisa repot urusannya.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!