Dulu, dengan uang seribu rupiah, saya bisa membeli kebahagiaan. Sekarang, uang seribu rupiah bahkan tidak cukup untuk bayar parkir yang ongkosnya sudah tiga ribu. Para ekonom menyebutnya inflasi. Saya menyebutnya tragedi kemanusiaan.
Ada sebuah konsep dalam ekonomi perilaku yang disebut "Pain of Paying"—rasa sakit psikologis yang kita rasakan saat menyerahkan uang. Uniknya, penelitian menunjukkan rasa sakit ini lebih terasa saat kita membayar dengan uang tunai daripada dengan kartu. Mungkin inilah yang menjelaskan kenapa, di masa kecil, memutuskan untuk membelanjakan satu-satunya koin seribuan di kantong adalah sebuah proses yang lebih rumit dan menyakitkan daripada memilih jurusan kuliah.
Bagi kami, anak-anak Pangkalan Brandan, uang seribu rupiah adalah sebuah surat kuasa. Surat yang memberikan kami kekuasaan penuh untuk menentukan nasib kebahagiaan kami selama 15 menit ke depan. Dan arena pengambilan keputusan itu adalah sebuah warung kecil di dekat sekolah, yang dijaga oleh seorang ibu-ibu yang kami panggil Uwak. Uwak ini adalah manajer investasi kami. Beliau tidak menawarkan saham atau reksadana, tapi portofolio investasinya jauh lebih menarik.
Dengan seribu rupiah, saya dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menentukan:
- Investasi Jangka Panjang: Beli permen karet Yosan. Ini adalah pilihan aman. Kebahagiaannya bisa dinikmati berjam-jam, dan kalau beruntung, kamu bisa mengumpulkan huruf Y-O-S-A-N untuk dapat hadiah (sebuah mitos yang sampai sekarang belum terbukti kebenarannya).
- Investasi Kenikmatan Murni: Beli Anak Mas. Ini adalah investasi pada pengalaman. Ada sensasi meremas bungkusnya, sensasi mengocok bumbunya, dan sensasi menjilati sisa-sisa bumbu di jari. Kenikmatannya singkat, tapi sangat intens.
- Investasi Spekulatif (High-Risk, High-Reward): Beli Chiki, Cheetos, atau Jetz. Ini adalah pilihan para pemberani. Kamu tidak hanya membeli snack, kamu sedang berjudi. Kamu bertaruh pada satu hal: Tazos.
Suatu sore, setelah menimbang-nimbang dengan wajah seserius menteri keuangan, saya memutuskan untuk mengambil opsi ketiga. Saya menyerahkan koin seribuan saya yang sudah hangat karena terlalu lama digenggam, dan Uwak menyerahkan sebungkus Chiki rasa ayam panggang. Transaksi selesai. Kini, nasib saya ada di dalam sebungkus plastik itu.
Saya tidak langsung membukanya. Itu adalah kesalahan para amatir. Prosesi pembukaan Chiki harus dilakukan dengan ritual. Saya akan membawanya ke teras rumah, duduk bersila, lalu mulai meraba-raba bungkusnya, mencoba menebak bentuk Tazos di dalamnya. Apakah ini Tazos biasa? Hologram? Atau jangan-jangan, Tazos emas? Ini adalah momen paling menegangkan, setara dengan adegan potong kabel bom di film-film Hollywood.
Setelah ritual perabaan selesai, saya akan membuka bungkusnya dengan sangat hati-hati dari ujung, seolah sedang melakukan operasi bedah. Saya tidak mau Tazos-nya tergores.
Lalu, saya mengintip ke dalam. Di antara remah-remah Chiki, saya melihatnya. Sebuah kepingan plastik bulat. Saya mengeluarkannya dengan perlahan. Gambarnya... Daffy Duck.
Saya terdiam. Saya memeriksa tumpukan Tazos saya yang lain. Ternyata, saya sudah punya tiga Tazos Daffy Duck. Ini adalah Tazos keempat saya. Saya baru saja mendapatkan Tazos zonk.
Jadi, dengan uang seribu rupiah, apa yang saya beli dan apa yang saya dapat?
Saya membeli sebungkus Chiki rasa ayam panggang. Tapi yang saya dapatkan jauh lebih banyak. Saya dapat pelajaran pertama saya tentang probabilitas. Saya dapat pelajaran tentang kekecewaan. Saya dapat pelajaran bahwa tidak semua investasi akan menghasilkan keuntungan.
Dan yang terpenting, saya dapat sebuah cerita. Cerita tentang betapa berharganya seribu rupiah di masa lalu, dan betapa sederhananya sumber kebahagiaan (dan kekecewaan) kami dulu. Sekarang, saya mungkin bisa membeli satu pabrik Chiki-nya sekaligus, tapi saya tidak akan pernah bisa membeli kembali sensasi menegangkan saat meraba-raba sebungkus harapan di dalamnya.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!