Manusia itu bisa berduka karena banyak hal. Kehilangan orang tua. Putus cinta. Gagal panen. Bangkrut. Tapi ada satu duka yang sifatnya struktural, menahun, dan diwariskan lintas generasi: menjadi WNI.
Kita ini sebenarnya tidak pernah benar-benar bahagia. Paling banter hanya lupa sebentar.
Menikah, sesaat kita lupa pedihnya jadi WNI.
Dapat kerjaan baru, lupa sebentar.
Dapat THR, dapat hadiah, melihat senyum koibito, naik motor malam hari sambil dengar lagu Jepang—lupa sebentar.
Tapi lupa itu bukan sembuh. Lupa itu cuma jeda. Sehabis itu, realitas datang lagi: pajak naik, harga naik, pejabat senyum, rakyat disuruh sabar.
Semua WNI itu berduka. Kecuali koruptor.
Hanya koruptor yang tidak berduka jadi WNI.
Manusia normal—mau kaya atau miskin, tua atau muda—pasti berduka.
Katakanlah kamu kaya. Kamu punya mobil. Rumah. Pendidikan S2, S3. Anak-anakmu kamu didik dengan baik, kamu ajari jujur, kamu ajari kerja keras. Tapi di negara ini, semua itu bisa lenyap dalam sekejap mata. Kenapa? Banyak sebab, dan hampir semuanya bukan salahmu.
Ada orang bodoh terpapar judol, kalah puluhan juta, lalu nekat merampok rumahmu. Kamu ditikam. Mati.
Pelakunya bilang “khilaf”.
Atau kamu tinggal di Sumatra, hidup dari cara halal, bertahun-tahun nabung, lalu ada satu perusahaan bikin kebun sawit jutaan hektar, hutan digunduli, air kehilangan rumahnya. Hujan datang sebentar saja—banjir.
Rumahmu tenggelam. Negara bilang: “Ini bencana alam.” Padahal alamnya sudah lama dibunuh.
Duka Indonesia itu bukan cuma soal miskin. Ini penting. Karena propaganda negara selalu bilang: “Yang susah itu karena miskin.” Bohong. Di Indonesia, bahkan orang kaya pun hidup di atas jurang.
Duka Indonesia adalah melihat hukum jadi lelucon yang terlalu panjang.
Ada politikus yang terang-terangan ngebodoh-bodohin rakyat, dan… yaudah.
Ada undang-undang diubah kilat demi satu orang, dan… yaudah.
Ada kontroversi soal ijazah pejabat publik yang tak pernah benar-benar dijelaskan ke publik secara tuntas, dan… yaudah.
Ada presiden yang bicara soal nyawa manusia dengan bahasa statistik—seolah kematian itu cuma grafik Excel—dan… yaudah.
Taik.
Kita hidup di negara di mana “yaudah” adalah ideologi resmi.
Ada pejabat yang dengan santai berkata—kurang lebih begini (parafrase, tapi semangatnya nyata):
“Rakyat itu jangan banyak mikir, yang penting tenang.”
Ada pejabat lain yang bilang (lagi-lagi parafrase, tapi nadanya akrab):
“Kalau lapar, ya makan.”
Dan prabwoo, dengan gaya khas militeristik-absurdnya, pernah berkali-kali melontarkan kalimat yang intinya selalu sama:
“Kita ini negara besar, kuat, hebat—kalau ada masalah, itu biasa.”
Biasa.
Banjir? Biasa.
Korupsi triliunan? Biasa.
Rakyat mati? Angka.
Di negara ini, orang korupsi terang-terangan dan… yaudah.
Ditangkap, difoto pakai rompi oranye, senyum.
Sidang.
Hukuman ringan.
Keluar.
Nyaleg lagi.
Masuk TV lagi.
Bikin podcast motivasi lagi.
Dan rakyat disuruh percaya pada moral.
Duka terbesar jadi WNI adalah menyadari bahwa negara tidak benar-benar menganggap kita manusia penuh.
Kita ini angka: DPT, persentase kemiskinan, target pertumbuhan, suara pemilu. Kalau mati, kita jadi statistik. Kalau hidup susah, kita disuruh bersyukur.
Makanya kita mencari pelarian. Nikah. Kerja. Liburan. Nonton konser. Belajar bahasa asing.
Bukan karena kita bahagia—tapi karena kalau kita berhenti sebentar saja, kita ingat: oh iya, kita tinggal di sini.
Dan yang paling menyakitkan: Indonesia bukan negara gagal karena tidak punya sumber daya. Indonesia gagal karena terlalu banyak orang jahat yang dibiarkan hidup nyaman, dan terlalu banyak orang baik yang dipaksa “yaudah”.
Responses (1)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.