Skip to main content

Loading...

Inisiator
Our Story Community
Login Get Started
Welcome to Inisiator
Discover amazing stories
Home Our Story Ranking

Language

ID
EN
Login Register

Duka Indonesia?

Ya punya presiden macam jookwi dan prabwoo (sengaja ku tulis salah dan pakai huruf kecil semua, biar tau rasa).

  1. Home
  2. /
  3. Mental Health & Burnout
  4. /
  5. Duka Indonesia?
Dec 18
4 min read
186 views
Author: Jabbar A. Panggabean

Article Actions

Interact with this article

Clap
1 clap
Save
Add to bookmarks
Reading List
Add to reading list
Duka Indonesia?

You’ll never imagine how painful life is after them.

Manusia itu bisa berduka karena banyak hal. Kehilangan orang tua. Putus cinta. Gagal panen. Bangkrut. Tapi ada satu duka yang sifatnya struktural, menahun, dan diwariskan lintas generasi: menjadi WNI.

Kita ini sebenarnya tidak pernah benar-benar bahagia. Paling banter hanya lupa sebentar.

Menikah, sesaat kita lupa pedihnya jadi WNI.
Dapat kerjaan baru, lupa sebentar.
Dapat THR, dapat hadiah, melihat senyum koibito, naik motor malam hari sambil dengar lagu Jepang—lupa sebentar.

Tapi lupa itu bukan sembuh. Lupa itu cuma jeda. Sehabis itu, realitas datang lagi: pajak naik, harga naik, pejabat senyum, rakyat disuruh sabar.

Semua WNI itu berduka. Kecuali koruptor.
Hanya koruptor yang tidak berduka jadi WNI.
Manusia normal—mau kaya atau miskin, tua atau muda—pasti berduka.

Katakanlah kamu kaya. Kamu punya mobil. Rumah. Pendidikan S2, S3. Anak-anakmu kamu didik dengan baik, kamu ajari jujur, kamu ajari kerja keras. Tapi di negara ini, semua itu bisa lenyap dalam sekejap mata. Kenapa? Banyak sebab, dan hampir semuanya bukan salahmu.

Ada orang bodoh terpapar judol, kalah puluhan juta, lalu nekat merampok rumahmu. Kamu ditikam. Mati.
Pelakunya bilang “khilaf”.
Atau kamu tinggal di Sumatra, hidup dari cara halal, bertahun-tahun nabung, lalu ada satu perusahaan bikin kebun sawit jutaan hektar, hutan digunduli, air kehilangan rumahnya. Hujan datang sebentar saja—banjir.
Rumahmu tenggelam. Negara bilang: “Ini bencana alam.” Padahal alamnya sudah lama dibunuh.

Duka Indonesia itu bukan cuma soal miskin. Ini penting. Karena propaganda negara selalu bilang: “Yang susah itu karena miskin.” Bohong. Di Indonesia, bahkan orang kaya pun hidup di atas jurang.

Duka Indonesia adalah melihat hukum jadi lelucon yang terlalu panjang.
Ada politikus yang terang-terangan ngebodoh-bodohin rakyat, dan… yaudah.
Ada undang-undang diubah kilat demi satu orang, dan… yaudah.
Ada kontroversi soal ijazah pejabat publik yang tak pernah benar-benar dijelaskan ke publik secara tuntas, dan… yaudah.
Ada presiden yang bicara soal nyawa manusia dengan bahasa statistik—seolah kematian itu cuma grafik Excel—dan… yaudah.

Taik.

Kita hidup di negara di mana “yaudah” adalah ideologi resmi.

Ada pejabat yang dengan santai berkata—kurang lebih begini (parafrase, tapi semangatnya nyata):

“Rakyat itu jangan banyak mikir, yang penting tenang.”

Ada pejabat lain yang bilang (lagi-lagi parafrase, tapi nadanya akrab):

“Kalau lapar, ya makan.”

Dan prabwoo, dengan gaya khas militeristik-absurdnya, pernah berkali-kali melontarkan kalimat yang intinya selalu sama:

“Kita ini negara besar, kuat, hebat—kalau ada masalah, itu biasa.”

Biasa.
Banjir? Biasa.
Korupsi triliunan? Biasa.
Rakyat mati? Angka.

Di negara ini, orang korupsi terang-terangan dan… yaudah.

Ditangkap, difoto pakai rompi oranye, senyum.
Sidang.
Hukuman ringan.
Keluar.
Nyaleg lagi.
Masuk TV lagi.
Bikin podcast motivasi lagi.

Dan rakyat disuruh percaya pada moral.

Duka terbesar jadi WNI adalah menyadari bahwa negara tidak benar-benar menganggap kita manusia penuh.
Kita ini angka: DPT, persentase kemiskinan, target pertumbuhan, suara pemilu. Kalau mati, kita jadi statistik. Kalau hidup susah, kita disuruh bersyukur.

Makanya kita mencari pelarian. Nikah. Kerja. Liburan. Nonton konser. Belajar bahasa asing.

Bukan karena kita bahagia—tapi karena kalau kita berhenti sebentar saja, kita ingat: oh iya, kita tinggal di sini.

Dan yang paling menyakitkan: Indonesia bukan negara gagal karena tidak punya sumber daya. Indonesia gagal karena terlalu banyak orang jahat yang dibiarkan hidup nyaman, dan terlalu banyak orang baik yang dipaksa “yaudah”.

Story Tags

#Indonesia #Wni #Duka
Jabbar A. Panggabean
Written by Jabbar A. Panggabean
Verified Book Author
Book Author
✨ Permanent verification
14 followers · 30 following

Software Engineer at Inovasi Karya ID

Jabbar A. Panggabean
Written by Jabbar A. Panggabean
Verified Book Author
Book Author
✨ Permanent verification
14 followers · 30 following

Software Engineer at Inovasi Karya ID

Category
Published in Mental Health & Burnout
1K followers · Last published 18 hours ago

Insights and support for managing stress, burnout, and mental wellness.

Category
Published in Mental Health & Burnout
1K followers · Last published 18 hours ago

Insights and support for managing stress, burnout, and mental wellness.

Explore more

  • More in Mental Health & Burnout
  • #Indonesia
  • #Wni
  • #Duka
  • Catatan Kecil tentang Media Sosial, Hoaks, Buzzer dan Rasa Lelah di Era AI
  • Sekala

Responses (1)

Join the Discussion

Sign in to share your thoughts and engage with the community.

Sign In to Comment
Cecilion D Ace
Cecilion D Ace 1 month ago
Jadi gimana caranya biar kita bisa memutus siklus ini bwang?

More from Jabbar A. Panggabean

Discover more insights from this author

Kalimat Pengingat

Setiap tahun rasanya selalu ada satu kalimat yang diam-diam kita cari.

Dec 24, 2025

Warna

Yang mewakiliku di Tahun 2025.

Dec 23, 2025

Wajah-wajah Baru Tahun Ini

Tahun 2025 datang dengan wajah-wajah baru. Lebih banyak dari yang kuduga. <br>Sebagiannya singgah sebentar. Sebagiannya...

Dec 22, 2025

Kebiasaan Lama (Yang Baru)

Masih ngomongin soal 2025. Well yeah, aku memulai tahun ini dengan cara yang sedikit berbeda. <br>Untuk pertama kalinya,...

Dec 21, 2025
Explore All Stories
Inisiator

A place where people share stories, build community, and inspire the future.

Founders Profile

Product

  • Features
  • Pricing
  • For Teams
  • Updates

Resources

  • Blog
  • About Us
  • Help Center
  • Community

Legal

  • Terms of Use
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy

Stay in the loop

Get the latest stories, updates, and creator insights delivered to your inbox.

© 2026 Inisiator by Jabbar A. P. (I'm open to work!)