Sedikit cerita pengalaman saya tentang mengikhlaskan kepergian nenek saat magang di luar daerah, Patah hati yang luar biasa ketika saya mendapatkan kabar di malam hari itu, saat saya mengerjakan tugas-tugas magang di malam itu sebuah pesan singkat di layar ponsel mengabarkan bahwasanya nenek saya sedang sakit parah, saya mencoba menghubungi keluarga saya yang berada di sana tetapi tidak bisa di karenakan saya magang di daerah terpencil yang sulit untuk mengakses internet, Kekhawatiran yang luar biasa memenuhi pikiran saya, saya terus mecoba untuk menghubungi keluarga saya dan akhirnya setelah satu jam lebih saya berusaha untuk menghubungi mereka akhirnya saya dapat menghubungi mereka melalui video call, saya melihat nenek sudah terbaring tidak berdaya dan sudah di kelilingi oleh keluarga besar saya , melihat kondisi nenek seperti itu untuk mengucapkan sepatah kata pun tidak bisa tersampaikan, air mata membasahi pipi, pikiran tak karuan. Ibu menyampaikan agar mendoakan nenek dan harus ikhlas bila terjadi apa yang tidak diinginkan. akhirnya saya mematikan video call saya karena tidak sanggup melihat kondisi nenek seperti itu, saat itu untuk menenangi hati saya, saya melaksanakan shalat dan berdoa untuk nenek saya, berpuluhan kali doa saya ucapkan untuk merayu tuhan agar tidak terjadi hal yang tidak saya inginkan. Tapi bagaimana pun usaha yang kita lakukan kita tidak bisa mengubah qada yang sudah di tentukan oleh Tuhan, setelah shalat subuh saya membuka kembali ponsel saya, kabar yang tidak ingin saya dapatkan itu akhirnya datang, Nenek sudah tiada ikhlaskan nenek ; pesan dari ibuku, pesan itu merenggut senyumku, Tangis ku tak terkendali, teman-teman magang pun menghampiriku dan menenangkanku. Bagaimana mungkin aku berada begitu jauh di saat-saat terakhirnya? Penyesalan mencubit tanpa ampun, membayangkan tangan lembutnya tak sempat kugenggam, bisikan sayang yang tak terucap. rasa bersalah menghantuiku. Magang ini, yang seharusnya menjadi langkah awal menuju impianku, terasa begitu egois sekarang. Penyesalan demi penyesalan bagai duri yang menghujam relung hati. air mata terus mengalir, membasahi pipi tanpa bisa kuhentikan. Di tengah kesendirian ini, aku mencoba mengingat setiap nasihatnya, setiap senyumnya, setiap pelukannya. Kenangan-kenangan itu adalah satu-satunya yang tersisa, dan aku akan menjaganya erat-erat di dalam hatiku. Meskipun jarak memisahkan raga, aku tahu bahwa cinta nenek akan selalu bersamaku. Ia akan menjadi bintang penuntun dalam setiap langkahku, mengingatkanku untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik, seperti yang selalu ia harapkan.Selamat jalan, Nenek sayang. Semoga engkau tenang di sisi-Nya. Kelak, kita pasti bertemu lagi. Dan saat itu tiba, aku akan memelukmu erat, menebus semua waktu yang hilang karena jarak.
Pengalaman saya tentang mengikhlaskan kepergian nenek saat magang di luar daerah mengajarkan kita tentang patah hati dan ikhlas. Rasa sakit yang mendalam dan penyesalan atas ketidakmampuan untuk berada di samping nenek di saat-saat terakhirnya menunjukkan betapa berharganya waktu bersama orang yang dicintai. Namun, ikhlas berarti menerima ketentuan Tuhan dengan hati yang tenang dan sabar, meskipun sulit untuk melakukannya. Doa dan harapan dapat membantu dalam proses ikhlas dan memberikan kekuatan untuk menghadapi kesedihan. Kenangan-kenangan indah dengan nenek dapat menjadi sumber kekuatan untuk melanjutkan hidup dan mengingatkan saya untuk menghargai waktu bersama dengan orang yang dicintai.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!