Mataku Melihat Media Sosial (medsos)
Ada banyak perspektif yang muncul tentang apa dan bagaimana media sosial hadir di setiap hidup kita.
Hampir seluruh orang pasti punya media sosial. Konten-konten yang berseliweran di setiap orang juga berbeda-beda. Semuanya sesuai dengan algoritma yang tercipta dari setiap insividu, termasuk apa yang menjadi ketertarikan kita terhadap suatu hal. Maka hal-hal yang berkaitan akan semakin sering muncul.
Sehingga menimbulkan efek adiksi. Kalau kita tidak punya batasan tentu kita akan terjebak dalam dunia maya di semua akun media sosial kita.
Tapi, media sosial juga yang membangun rasa kepedulian, kepekaan terhadap situasi yang terjadi, memberikan informasi dengan mudah dan cepat yang mungkin kita tidak pernah tau tentang sebuah informasi itu atau sebagai wadah pemantik diskusi atas kebijakan-kebijakan yang sebaiknya tidak disahkan.
Apalagi, kalau kata netizen "No Viral No Justice".
Media sosial menunjukkan betapa masih banyaknya orang-orang cerdas yang mengemukakan pendapatnya berdasarkan ilmu (walopun ada juga yg ngasal, tetap perlu filter diri). Sehingga suatu hal tidak diyakini secara homogen. Semakin banyak perbedaan muncul, semakin banyak diskusi terbangun, semakin banyak pilihan kita menerima mana yang menjadi informasi valid dan kita yakini benar dan semoga semakin besar respect kita terhadap orang lain.
Kalau kata dosen filsafatku dulu: "Apa yang kamu tau belum tentu benar, dan apa yang orang lain tau juga belum tentu benar. Semuanya berdasarkan apa yang di yakini benar. Dan saling menghormatilah atas perbedaan itu"
Balik ke topik awal.
Aku salah satu orang yang menjadikan sosmed salah satu sumber informasi pertama. Seperti "Eh tadi kok kayak gempa yah, langsung cek X mencari dimana titik pusat gempa" atau belakangan bencana banjir yang terjadi di Sumut, Sumbar dan Aceh juga sering menunggu, melihat update terkini dari korban, relawan dan pihak-pihak lain yang turun langsung ke lapangan dan menyebar luaskan informasi supaya orang-orang yang mungkin saja belum tau jadi tau dan membantu.
Tapi, dari sosmed juga aku menjadi stres akibat melihat lambannya pemerintah mengambil tindakan dalam menanggulangi bencana, melihat betapa jeleknya komunikasi publik yang dipertontonkan ditengah bencana.
Ohh satu lagi. komentar komentar asbun dari netizen juga terkadang cukup menghibur. Karena kadang pada lucu-lucu.
Jadi, Media Sosial di mataku seperti semangkun Granola yang terdiri berbagai macam biji-bijian, kacang-kacangan dan buah kering. Bedanya, malau granola semua elemen menyehatkan kalau sosmed tidak semua hal menyehatkan kondisi psikis kita.
#tautannarablog11 #day2
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!