Indonesia kembali berselimut duka. Tanah air yang katanya berdiri atas nama rakyat, kembali kehilangan satu jiwa muda yang seharusnya masih bisa bermimpi, menata masa depan, dan membangun negeri. Namanya Affan, seorang pemuda sederhana berusia 21 tahun, pengemudi ojek online yang setiap hari menyusuri jalanan kota demi sesuap nasi, demi kehidupan yang layak untuk dirinya dan keluarganya. Namun kini, langkahnya terhenti. Bukan oleh tabrakan, bukan oleh penyakit, melainkan di tengah riuh jalanan yang seharusnya menjadi saksi hidup demokrasi, justru menjadi tempat gugurnya seorang anak bangsa.
Affan adalah wajah dari jutaan pemuda Indonesia yang berjuang dalam senyap. Setiap pagi, ia mengenakan jaket hijaunya, memasang helm dengan doa sederhana: semoga hari ini cukup rezeki, cukup selamat, cukup kuat menghadapi kerasnya jalanan. Ia melaju menembus panas yang membakar, hujan yang mengguyur, dan debu jalanan yang menyesakkan. Di balik setiap kilometer perjalanan, ada mimpi kecil yang disimpannya: ingin membahagiakan orang tua, ingin menabung untuk masa depan, ingin hidup lebih baik. Tapi siapa sangka, perjalanan itu tak berujung pulang.
Kini, nama Affan bukan lagi sekadar identitas seorang pekerja lelah di jalanan. Ia menjelma menjadi simbol luka bangsa ini. Demokrasi yang digadang-gadang sebagai rumah besar tempat rakyat berlindung, ternyata kadang menjelma menjadi jalan sunyi yang merenggut harapan. Di negeri yang katanya menjunjung tinggi kemanusiaan, justru anak muda sederhana harus tumbang, seakan nyawa rakyat kecil begitu murah nilainya.
Di usia 21 tahun, seharusnya Affan sedang sibuk menata masa depan: kuliah, bekerja di kantor impian, merancang cita-cita, atau sekadar bercanda hangat bersama keluarga. Namun kenyataan berkata lain. Ia tak lagi bisa menuliskan rencana hidupnya. Yang tersisa kini hanyalah cerita dan tangisan. Air mata ibunya, sesak doa ayahnya, dan isak saudara serta sahabatnya menjadi pengantar kepergian. Indonesia pun ikut menangis, sebab kehilangan satu lagi generasi emasnya.
Kisah Affan bukanlah kisah tunggal. Ia adalah potret ribuan, bahkan jutaan rakyat kecil yang sering kali terpinggirkan di tengah ramai wacana demokrasi. Mereka yang hidup dari keringat harian, yang menukar tenaga dengan rupiah demi bertahan, sering kali menjadi korban dari kebijakan yang tak berpihak, atau situasi jalanan yang semakin keras dan tak manusiawi. Pertanyaan besar pun menggantung di udara: sampai kapan air mata rakyat kecil menjadi bahan bakar demokrasi?
Affan mungkin telah pergi, tetapi kisahnya adalah pengingat keras bagi bangsa ini. Demokrasi sejati bukanlah sekadar jargon di panggung politik, bukan sekadar poster dan spanduk, bukan pula sekadar suara yang diminta setiap lima tahun sekali. Demokrasi seharusnya hadir nyata dalam bentuk perlindungan, keadilan, dan ruang hidup yang aman bagi seluruh rakyat terutama mereka yang berada di barisan terbawah, yang setiap hari berjuang hanya untuk bertahan hidup.
Indonesia menangis hari ini. Tapi dari tangisan ini, semoga lahir kesadaran kolektif: bahwa kita tak boleh lagi membiarkan nyawa muda melayang sia-sia, mimpi-mimpi pupus begitu cepat, dan harapan rakyat kecil terkubur di jalanan. Affan mungkin telah gugur, tapi namanya akan terus hidup sebagai penanda bahwa demokrasi tanpa kemanusiaan hanyalah ilusi.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!