Rahmah dan fania seperti dua sisi dari satu cermin. Sejak masuk SMA,dan berada dalam 1 kost mereka selalu terlihat bersama. Fania yang pendiam, penyuka buku, dan selalu rapi dengan seragam yang disetrika. Sementara rahmah, si cerewet yang selalu punya cerita baru tiap pagi, yang selalu tampil cantik, dan wangi.
Meski berbeda, mereka saling mengisi. Fania selalu mendengarkan ketika rahmah bercerita. Fania mencatat, Rahmah menyontek (dengan izin). Pulang sekolah pun mereka berdua, kadang mampir ke toko alat tulis, kadang ke warung depan sekolah untuk sekedar duduk sambil makan cilok dan minum pop ice.
Setiap kali ada acara sekolah, guru atau teman-teman tak perlu repot menebak. Kalau fania lomba ikut drama, rahmah pasti jadi penulis naskahnya. Kalau fania ikut lomba puisi, rahmah yang sibuk nemangatin.
Tapi semuanya mulai berubah di kelas 11.
Fania duduk termenung di bangkunya, matanya sesekali melirik kursi kosong di sebelah kanan.
โfan, masih gak ada kabar dari Rahmah?โ tanya pia, teman sebangku sementara.
Fania mengangguk pelan. โKatanya rahmah harus ikut pindah orang tua ke Kalimantan.โ
Hari itu seperti jadi hari paling sepi di sekolah. Tak ada lagi celetukkan kecil dari Rahmah saat fania mulai ribut sendiri. Tak ada yang mengingatkan fania untuk membawa baju Olahraga setiap ada jam olahraga atau pulpen cadangan. Semua terasa janggal.
Beberapa minggu kemudian, sebuah surat tiba di rumah fania. Dari balik amplop berwarna biru, ia mengenali tulisan tangan rahmah yang rapi.
Isinya sederhana:"Fan, aku kangen. Tapi tenang, kamu tetap bisa ngomel dan aku tetap bisa mendengar omelanmu, lewat surat ini. Kita mungkin tidak duduk di sebelah lagi, tapi kamu tetap ada di halaman pertama buku catatanku."
Fania menangis malam itu. Setiap hari, dia menulis cerita kecil tentang sekolah, tentang dirinya, dan tentang rindunya.
Karena meskipun tak lagi selalu bersama secara fisik, mereka tahu persahabatan yang tulus tak akan habis hanya karena jarak.
Tetapi besoknya, dia datang ke sekolah dengan senyum, membawa buku kecil yang dia beri judul: "Surat untuk rahmah."
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!