Di sebuah sekolah menengah pertama, tinggallah seorang siswi bernama fani. Ia adalah seorang yang pendiam, sederhana, dan sering memakai sepatu sekolah yang berwarna hitam,dan sudah mulai rusak. Sepatu itu bukan hanya alas kaki bagi dia, tetapi juga kenangan terakhir pemberian dari almarhum ayahnya.
Sayangnya, teman-temannya tak pernah peduli dengan fani. Setiap hari ketika ada di sekolah,fani jadi bahan ejekan oleh teman temanya.
"Eh awas awas, si miskin sepatu jebol lewat!""Hati-hati, nanti baunya bikin kalian pingsan loh!"
Tawa menghina selalu menyambut langkah Fani, Ia mencoba bertahan, menahan air mata, dan meyakinkan diri untuk tetap kuat. Tapi di dalam hatinya luka itu semakin tumbuh perlahan, namun terlalu dalam.
Santi, salah satu siswi populer, sering memimpin aksi ejekan itu. Ia yang sering merasa hebat ketika semua teman tertawa karena lelucon kasarnya itu. Tapi suatu hari, semuanya sudah berubah.
Saat di jam pelajaran bahasa Indonesia, guru meminta setiap siswa membuat esai tentang "Hal yang Paling Berarti dalam Hidupku." Fani menulis tentang sepatu hitam nya itu dan betapa besar arti sepatu itu bagi dirinya.
Esoknya, saat guru membaca esai Fani di depan kelas.tanpa menyebut nama, suasana yang hening. Dan tulisan itu menceritakan tentang sosok ayah yang bekerja keras sebagai tukang bangunan, yang menabung berbulan-bulan demi untuk membelikan sepasang sepatu hitam sebelum meninggal dunia. Sepatu itu bukan hanya pemberian terakhir dari ayahnya, tapi juga merupakan simbol cinta dan perjuangan dari seorang ayahnya.
Tak ada yang berani tertawa. Mata santi pun mulai berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, dan ia pun merasa bersalah.
Dan Keesokan harinya, Santi menghampiri fani di kantin.Dan Santi pun meminta maaf kepada Fani."Fani… maaf ya… aku nggak tahu kalau sepenting itu sepatu kamu."
Fani menatapnya, ia diam sejenak, lalu mengangguk pelan kepada Santi. Bukan karena ia langsung memaafkan, tapi karena ia ingin memberi kesempatan kedua.
Hari itu, ejekan sudah berhenti. Fani pun mulai tersenyum. Sepatu hitam itu tetap dia pakai, tapi kini, tak lagi dengan rasa malu. Melainkan dengan rasa kebanggaan.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!