Skip to main content

Loading...

Inisiator
Our Story Community
Login Get Started
Welcome to Inisiator
Discover amazing stories
Home Our Story Ranking

Language

ID
EN
Login Register

KATA MAAF DIBALIK EJEKAN

Cerita ini mengajarkan tentang harga sebuah kenangan, serta pentingnya menghargai orang lain, dan kekuatan untuk memaafkan seseorang.

  1. Home
  2. /
  3. Articles
  4. /
  5. KATA MAAF DIBALIK EJEKAN
May 25
2 min read
435 views
Author: Nur Faniya

Article Actions

Interact with this article

Clap
0 claps
Save
Add to bookmarks
Reading List
Add to reading list
KATA MAAF DIBALIK EJEKAN

Di sebuah sekolah menengah pertama, tinggallah seorang siswi bernama fani. Ia adalah seorang yang pendiam, sederhana, dan sering memakai sepatu sekolah yang berwarna hitam,dan sudah mulai rusak. Sepatu itu bukan hanya alas kaki bagi dia, tetapi juga kenangan terakhir pemberian dari almarhum ayahnya.
Sayangnya, teman-temannya tak pernah peduli dengan fani. Setiap hari ketika ada di sekolah,fani jadi bahan ejekan oleh teman temanya.
"Eh awas awas, si miskin sepatu jebol lewat!""Hati-hati, nanti baunya bikin kalian pingsan loh!"
Tawa menghina selalu menyambut langkah Fani, Ia mencoba bertahan, menahan air mata, dan meyakinkan diri untuk tetap kuat. Tapi di dalam hatinya luka itu semakin tumbuh perlahan, namun terlalu dalam.
Santi, salah satu siswi populer, sering memimpin aksi ejekan itu. Ia yang sering merasa hebat ketika semua teman tertawa karena lelucon kasarnya itu. Tapi suatu hari, semuanya sudah berubah.
Saat di jam pelajaran bahasa Indonesia, guru meminta setiap siswa membuat esai tentang "Hal yang Paling Berarti dalam Hidupku." Fani menulis tentang sepatu hitam nya itu dan betapa besar arti sepatu itu bagi dirinya.
Esoknya, saat guru membaca esai Fani di depan kelas.tanpa menyebut nama, suasana yang hening. Dan tulisan itu menceritakan tentang sosok ayah yang bekerja keras sebagai tukang bangunan, yang menabung berbulan-bulan demi untuk membelikan sepasang sepatu hitam sebelum meninggal dunia. Sepatu itu bukan hanya pemberian terakhir dari ayahnya, tapi juga merupakan simbol cinta dan perjuangan dari seorang ayahnya.
Tak ada yang berani tertawa. Mata santi pun mulai berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, dan ia pun merasa bersalah.
Dan Keesokan harinya, Santi menghampiri fani di kantin.Dan Santi pun meminta maaf kepada Fani."Fani… maaf ya… aku nggak tahu kalau sepenting itu sepatu kamu."
Fani menatapnya, ia diam sejenak, lalu mengangguk pelan kepada Santi. Bukan karena ia langsung memaafkan, tapi karena ia ingin memberi kesempatan kedua.
Hari itu, ejekan sudah berhenti. Fani pun mulai tersenyum. Sepatu hitam itu tetap dia pakai, tapi kini, tak lagi dengan rasa malu. Melainkan dengan rasa kebanggaan.

Nur Faniya
Written by Nur Faniya
11 followers · 13 following

This Author is too lazy to write a bio.

Nur Faniya
Written by Nur Faniya
11 followers · 13 following

This Author is too lazy to write a bio.

Explore more

  • At Ease
  • Menjaga Alam, Menyayangi Diri: Perjalanan dari Sekadar Tinggal Menjadi Peduli
  • Quotes Bijak🖤
  • Naik Kereta, Belajar Canva
  • Day 12- hal-hal yang kupelajari tanpa pernah mendaftar kelasnya.

Responses (0)

Join the Discussion

Sign in to share your thoughts and engage with the community.

Sign In to Comment

No Comments Yet

Be the first to share your thoughts on this article!

More from Nur Faniya

Discover more insights from this author

SURAT UNTUK RAHMAH

SURAT UNTUK RAHMAH

Fania dan Rahmah adalah sahabat dekat yang saling melengkapi meski berbeda sifat. Saat Rahmah pindah ke Kalimantan, Fani...

May 12, 2025
Explore All Stories
Inisiator

A place where people share stories, build community, and inspire the future.

Founders Profile

Product

  • Features
  • Pricing
  • For Teams
  • Updates

Resources

  • Blog
  • About Us
  • Help Center
  • Community

Legal

  • Terms of Use
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy

Stay in the loop

Get the latest stories, updates, and creator insights delivered to your inbox.

© 2026 Inisiator by Jabbar A. P. (I'm open to work!)