Akulah si manusia yang sulit cerita kepada manusia lainnya. Tentu hal itu terjadi karena ada banyak takut yang bergelayut manja di kepalaku. Jika aku mulai terbuka mengenai satu dan lain hal kepadamu, maka kupastikan kau telah memiliki tempat di dalam kehidupanku. Sekecil apa pun itu.
Di tahun 2025 ini, aku memberanikan diri keluar dari zona nyaman(?) Mengikuti sebuah sesi pertemuan dengan orang-orang baru, yang bahkan sebelumnya tak kutahu bahwa dia ada di bumi ini. Namanya "Jiwa Mendengar".
Aku menemukan unggahan poster yang memuat informasi mengenai "Jiwa Mendengar" di Instagram. Setelah membaca dan menimbang, aku pun memutuskan untuk menjadi peserta pada sesi pertama.
Tidak banyak ekspektasi. Saat itu, aku hanya ingin mendengar kisah-kisah lain agar tidak merasa menjadi manusia paling hina di bumi-Nya ini. Pun aku ingin belajar bagaimana bercerita dengan baik, agar berisik di kepalaku bisa redam, tetapi tidak menularkan energi negatifnya kepada orang lain.
... dan, ya, "Jiwa Mendengar" memberikan apa-apa yang kuinginkan. Tidak ada paksaan dan penghakiman di dalamnya. Itu saja sudah sangat cukup.
Jiwa-jiwa yang hadir itu, mendengarkanmu dengan saksama dan utuh. Sesekali memberikan nasihat, jika kamu memang butuh.
Kisahnya dimulai dengan beragam ekspresi. Ada yang memulainya dengan senyum, tawa, marah, ketakutan, atau bahkan biasa saja; mati rasa. Namun, itulah bentuk amannya. Kau bebas menjadi apa saja yang membuatmu nyaman.
Bonusnya, kami mendapatkan mini terapi di sesi pertama tersebut. Terima kasih, Jiwa Mendengar.
Jika ingin didengarkan, maka belajarlah mendengar.
Untuk segala kisah, selalu terselip sebuah hikmah.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!