Bu, ada sebuah luka yang menganga di hatiku. Kukira ia hanya serupa titik noda kecil. Ternyata tidak, Bu.
Bahkan, kini rasa-rasanya ia menjadi lebih besar dari pertama kali ada. Entahlah, aku tak tahu pasti. Sebab tak pernah kuukur. Lagi pula, apatah tolok ukurnya? Lukaku ini tak kasatmata.
Bu, ia semakin parah. Selain membesar, banyak sekali darah yang dikeluarkannya. Tak jarang, aku merasa seperti tak lagi bernyawa.
Bu, siapakah yang harus kutemui untuk mengobati luka ini? Sebab, pada Dia pun aku tak sanggup menceritakannya. Padahal, tanpa kukatakan, Dia telah mengetahui seluruh isi hatiku, termasuk luka ini.
Bu, kadang aku juga berpikir. Luka ini bisa menjadi lukamu pula. Lantas, apakah kau akan memaafkanku atas luka yangβtanpa sengajaβkuletakkan di hatimu?
Ah, harusnya aku tak perlu menanyakan itu 'kan, Bu? Sebab kau adalah makhluk-Nya yang pemaaf. Apalagi, pada tiap-tiap anakmu. Namun, Bu, pertanyaan itu tetap menghantuiku. Aku takut.
Oh, iya, Bu. Sejak luka ini tercipta, ah, maksudku sejak aku menyadari ia ada, kebingungan datang dan menjadi teman setiaku. Ke mana aku melangkah, "bingung" selalu mengikuti. Membuatku kerap bertanya-tanya tentang sesuatu yang jawabannya tak pernah kudengar.
Bu, kau akan memaafkanku, 'kan?
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!