Bukan menjadi rahasia lagi bahwa Nara selalu suka musik sejak kecil, tapi ia tidak pernah benar-benar percaya diri. Ketika OSIS mengumumkan lomba band antar asrama, Zara menarik tangannya dengan semangat. โNara, kamu main keyboard, ya? Kamu bisa kok!โ
Nara mengangguk. Tapi dalam hatinya, ada suara kecil yang berbisik: โKalau gagal, gimana?โ Karena itu, latihannya sering malas-malasan. Kadang ia datang terlambat sambil bercanda, โAh, aku udah lumayan bisa lah.โ
Sementara itu, Zara dan teman-teman lain berlatih sungguh-sungguh. Malam-malam mereka sibuk menata nada dan tempo, sedangkan Nara sudah tidur duluan.
Akhirnya, hari audisi tiba. Lampu panggung menyorot wajah mereka. Zara memberi kode siap. Semua menarik napas.
Musik mulai.
Beberapa detik pertama baik-baik sajaโฆ Tapi kemudian jemari Nara salah menekan. Satu nada salah โ chord kacau โ vokal Zara goyah โ semua runtuh seperti domino.
Saat musik berhenti, ruangan sunyi. Juri hanya berkata dingin, โTerima kasih. Next group.โ
Zara tersenyum kecil berusaha kuat. โItโs okay, Nar. Udah berusaha kok.โ Tapi Nara bisa melihat mata Zara berkaca-kaca.
Di tribun yang kosong, Nara duduk sendirian menahan napas yang terasa sakit di dada. Ia ingin menyalahkan dirinyaโฆ Tapi bagian yang paling menyakitkan adalah: Ia tahu ia sebenarnya bisa lebih baik kalau ia berani serius.
Di kamar malam itu, keyboard kecil menyala. Nara mengulang satu bagian berkali-kali. Jarumnya jam melewati pukul 1 pagi. Tangannya pegal. Kepalanya berat. Tapi ia terus. Terus.
Dalam hati ia berkata pelan,
โAku nggak takut gagalโฆ Aku cuma takut tahu kalau aku mampu.โ
Dan malam itu Nara berjanji pada dirinya sendiri: Apa pun yang ia pilih dalam hidup โ ia akan memberikan 100% dirinya, bahkan ketika ia takut, bahkan ketika orang lain meragukannya.
Karena mimpi akan tetap menjadi mimpi, kalau kita hanya setengah hati menjalaninya.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!