Hari itu hujan turun dengan deras di luar asrama. Nara duduk di balik jendela, memandangi titik-titik air yang berlomba di kaca. Ia baru saja mengalami sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak โ seseorang yang ia percaya ternyata tidak sejujur yang ia kira.
Seminggu terakhir, Nara bergantung pada Arga, teman barunya di asrama, untuk membantunya mengerjakan proyek kelompok. Arga terlihat pintar dan baik, selalu menawarkan bantuan, bahkan sering bilang, โTenang aja, Ra. Aku yang urus.โ Nara percaya. Ia menyerahkan semua file, catatan, dan laporan padanya.
Tapi pagi ini, ketika guru meminta hasil kerja kelompok, Arga malah berkata, โAku udah kirim ke guru duluan. Nanti kamu nyusul tanda tangan aja.โ Dan dari situ, semuanya mulai terasa aneh. Nilai kelompok diumumkan โ hanya nama Arga yang tercantum di halaman depan laporan. Semua hasil kerja mereka tertulis atas nama satu orang.
Rasanya seperti ditampar. Nara tidak marah, tidak juga menangis. Ia hanya diam. Dalam diam itu, ia belajar sesuatu: tidak semua senyum berarti tulus, dan tidak semua bantuan berarti ingin menolong.
Malamnya, ia duduk di meja belajar, menatap buku catatan yang penuh coretan. โMulai besok, aku mau coba sendiri dulu,โ gumamnya pelan. Ia mulai menulis ulang laporannya dari awal, lembar demi lembar, meski matanya lelah dan hujan belum juga reda. Tapi kali ini, setiap huruf yang ia tulis, terasa lebih bermakna, karena semuanya datang dari usahanya sendiri.
Beberapa minggu kemudian, Nara berdiri di depan kelas, mempresentasikan hasil penelitiannya sendirian. Tangannya sempat gemetar, tapi suaranya mantap. Saat guru tersenyum bangga, ia sadar satu hal: tidak apa-apa berjalan sendiri. Kadang, kesendirian justru membuat langkahmu lebih kuat.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!