More

    Senandika

    Senandika adalah wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri.

    “Masih kepikiran?” Tanya gadis berambut hitam yang terurai sebatas bahu, rautnya cemas menatap lawan bicara dihadapannya.

    “Udah cukup. Jangan terus buang-buang waktu. Dia nggak akan berbalik lagi.” Lanjutnya.

    Lawan bicara gadis itu membisu, netranya siratkan sendu. Menjawab kebisuan yang cukup lama berselang, bulir-bulir bening datang mencelos. Terjun bebas tanpa parasut.

    Lawan bicaranya roboh. Bendungan yang ia bangun hancur, air bah melanda sanubarinya. Berharap menghanyutkan apa-apa yang membuat hatinya begitu pilu. Lawan bicaranya menangis sejadi-jadinya. Tanpa suara.

    “Menangislah.  Aku disini, aku disini.” Gadis itu menatap teduh lawan bicaranya. Kasih sayang tulus terpancar. Murni tanpa pamrih. Hanya ingin berbagi kasih.

    “Aku mau mati! Aku manusia gagal! Nggak punya apapun yang bisa dibanggakan. Aku cuma pecundang.” Lawan bicaranya terisak. Gadis itu diam. Mendengar dengan seksama. Memberi ruang pada sosok dihadapannya untuk meluapkan semua resah yang lama dipendam.

    “Aku sudah putus asa, terpuruk. Aku benci diriku yang seperti ini!” Lanjutnya, masih diiringi isak tangis. Matanya sayu, jiwanya pilu.

    “Lihat aku. Aku paham betul perasaanmu. Tapi kamu harus ingat, ada  aku disisimu selama kamu berpijak di Bumi ini. Jadi jangan pernah pilih ‘jalan pintas’ itu!” Gadis itu menatap lurus lawan bicaranya.

    “Kamu adalah kamu. Aku menyayangimu, karena itu kamu, bukan orang lain.” Gadis itu tetap menatapnya lurus, seakan-akan lawan bicaranya bisa hilang kapan saja dari pandangan matanya.

    Lawan bicaranya tersenyum, manis sekali. Untuk pertama kalinya sejak awal percakapan, ulasan indah itu tampak dari wajahnya.

    Gadis itu riang bukan main melihatnya tersenyum. Sedetik kemudian ia menatap dalam manik mata lawan bicaranya.

    “Tolong diingat, yang dikejar itu mimpimu, bukan pencapaian orang lain. Kamu, ada dihadapanku saat ini adalah bukti kamu hebat. Aku berterima kasih padamu karena tetap bertahan sampai detik ini. Ayo  kita mulai awal baru besok. Ayo kita isi halaman baru. Yang lama arsipkan saja, ya?”

    Lawan bicaranya tersenyum lagi. “Iya.” Tandasnya. Mereka tersenyum, berhadapan, sebelum menghilang bersamaan.

    Artikel Lainnya :

    Kamu Lagi dan Lagi-Lagi Kamu

    Early Bird Vs Night Owl : Kamu Tipe yang Mana?

    Prinsip Hidup YOLO : Positif atau Negatif Ya?

     

    Latest articles

    Related articles