More

    Self-Driving : Pilih jadi ‘Driver’ atau ‘Passenger’?

    Pernah dengar istilah Driver atau Passenger? Kalau boleh memilih kamu akan jadi Driver atau Passenger? Berkaitan dengan itu, hari ini kita bukan membahas tentang cara mengemudikan kendaraan seperti mobil atau sepeda motor ya Sobat Lomba. Kita akan bahas bagaimana manusia dapat mengambil kendali atas dirinya sendiri dengan rujukan buku karya Rhenald Kasali, Self-Driving.

    Analogi Driver dan Passenger

    Mungkin kita semua pasti pernah berada di posisi sebagai pengemudi ataupun penumpang ketika sedang naik kendaraan. Terkadang saat menjadi penumpang kita menemui banyak tipe pengemudi seperti yang emosian, yang uring-uringan, yang gak asik, dan lain-lain.

    Namun, ternyata tanpa sadar kita mengabaikan bahwa beban seorang pengemudi jelas beda dengan penumpang. Para pengemudi harus fokus selama berkendara serta menjaga penumpang agar aman dan selamat hingga tujuan.

    Ilustrasi tersebut cukup memberikan gambaran tentang driver dan passenger. Rhenald Kasali lewat bukunya ingin mendorong kita agar menjadi driver bagi diri sendiri yang mampu mengambil alih kendail atas diri dan segala potensinya.

    Perbedaan Driver dan Passenger

    Driver adalah orang yang berani menentukan arah dan mengambil resiko. Mereka dibentuk dari pengalaman dan pendidikan. Sementara passenger biasanya hanya menjadi orang yang manut saja di kursi belakang.

    Jika sebuah kendaraan mengalami kecelakaan, maka yang lebih bertanggung jawab adalah pengemudi dan bukan penumpang. Pengemudi juga harus mencari jalan alternatif ketika berhadapan dengan kemacetan tanpa emosi, apalagi mengumpat dan menyalahkan orang lain.

    Secara garis besar perbedaan seorang driver dan passenger dapat dilihat lewat poin-poin dibawah ini :

    1. Jika passenger hanya menumpang, maka driver mengemudikan kendaraan menuju titik tertentu
    2. Penumpang tidak harus tahu jalan, sedangkan pengemudi mutlak harus tahu jalan
    3. Penumpang itu boleh mengantuk dan tidur, tetapi pengemudi jelas dilarang ngantuk apalagi tidur
    4. Seorang penumpang tidak perlu merawat kendaraan, pengemudi harus merawat kendaraan
    5. Menjadi penumpang itu adalah pilihan yang bebas dari bahaya, sedangkan pengemudi malah mengekspos diri pada bahaya

    Poin-poin tersebut jelas menunjukkan bahwa mental driver berani mengambil resiko. Menghadapi konflik, bahaya, resiko, membuat seseorang menjadi lebih unggul.

    Seorang driver sejatinya tidak memiliki mental suka mengeluh, tidak bertanggung jawab, dan tidak punya inisiatif. Seseorang tidak dikatakan seorang driver jika menjalani peran hanya karena terpaksa pun keadaan semata. Seseorang yang layak disebut memiliki mental driver memerlukan peranan ilmu, kesadaran, dan pengalaman.

    Nah, begitulah pembahasan mengenai driver dan passenger. Milo yang selama ini hanya jadi passenger jadi sadar jika kita perlu untuk upgrade diri menjadi driver. Kalau Sobat Lomba akan memilih untuk jadi driver atau passenger, nih?

    Artikel Lainnya :

    Bukan Ayang, Ini 5 Sumber Cinta yang Ada di Sekeliling Kamu

    Situs Cari Jurnal Gratis untuk Referensi Paper Kamu

    Mahasiswa, Simak 4 Tips Mudah Belajar Bahasa Inggris dengan Menyenangkan!

    Latest articles

    Related articles