Life Style

Menjadi Santuy dengan Filosofi Stoicism

Kamu pernah nggak merasa kesal dengan sikap orang lain yang ternyata nggak sesuai dengan ekspektasimu? Atau ketika suatu hal yang kamu usahakan nggak berjalan sesuai dengan planning yang telah kamu atur, kamu merasa kecewa berat bahkan sampai nggak mau melakukan apa-apa lagi? Nah, kalau kamu pernah ngerasain, kayaknya kamu perlu untuk berkenalan dengan “Filosofi Stoicism” yang dilahirkan di Athena pada awal abad ke-3 SM.

Filosofi Stoicism menyatakan bahwa kebajikan (seperti kebijaksanaan) adalah kebahagiaan dan penilaian harus didasarkan pada perilaku, bukan kata-kata. Bahwasannya kita tidak dapat mengendalikan apapun yang terjadi apabila hal tersebut berasal dari luar diri kita (eksternal), sebab kita hanya bisa mengendalikan diri kita sendiri dan bagaimana cara kita meresponnya. Pandangan ini cukup mencolok, sebab stoicism mengajarkan bagaimana manusia tetap memilih sikap hidup dengan menekankan apatheia, hidup pasrah atau tawakal menerima keadaannya di dunia. Sikap tersebut yang merupakan cerminan dari kemampuan nalar manusia, bahkan kemampuan tertinggi dari semua hal.

Dengan kita memperbaiki nalar kita tentang apa yang ada di bawah kendali kita dan apa yang tidak, kita mampu mengendalikan emosi yang tidak seharusnya dibesar-besarkan dan justru akan menghancurkan dirimu sendiri. Kalau begitu langsung saja kita kasih tau beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk membentuk pola pikir stoicism agar hidupmu jauh lebih santuy. Simak penjalasannya di bawah ini, ya!

  1. Terima Apa yang Tidak Bisa Kamu Ubah

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak hal yang tidak bisa kamu kendalikan, misalnya cuaca buruk dan bencana alam. Sebagai contoh, saat kamu sudah punya janji dengan salah seorang teman untuk pergi berlibur ke suatu tempat namun ternyata harus gagal karena cuaca sedang buruk, kamu tidak perlu marah pada dirimu, temanmu, atau bahkan marah kepada alam karena tidak jadi melaksanakan planning tersebut. Jangan menyalahkan diri dan orang lain karena sesuatu yang tidak bisa diubah. Fokuslah pada apa yang bisa diubah, misalnya keputusan dan pemikiran anda. Sebagai opsi lain, anda bisa menghabiskan waktu untuk pergi berkunjung ke rumah teman dan menghabiskan waktu untuk bermain disana.

  1. Biasakan Berpikir Sebelum Berbicara atau Memberikan Reaksi

Mulailah untuk belajar mengendalikan diri dan memahami diri sendiri. Jika kamu menjalani hidup sesuai dengan filosofi stoicism, berpikir sebelum berbicara jauh lebih penting daripada bicara secara spontan terhadap apa yang kamu rasakan. Alih-alih, apa yang kamu rasakan saat itu hanyalah emosi sesaat, jika tidak dipikirkan baik-baik sebelum berbicara, kemungkinan besar malah akan menimbulkan hal lain yang lebih buruk lagi. Sebagai contoh, jika seseorang mengkritik kamu, jangan langsung dibalas dengan emosi yang meluap-luap, sehingga yang terjadi justru adalah pertikaian. Cobalah untuk mempertimbangkan ucapannya, barangkali di situ terdapat kebenaran dan malah bagus untuk kamu introspeksi diri sendiri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fblog.sabda.org%2F2020%2F07%2F20%2Fted-talk-stoicism-filosofi-stoa%2F&psig=AOvVaw2aUMCLepZqDiu9Ve57xPeh&ust=1623731156605000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCKDRsI-klvECFQAAAAAdAAAAABAa

  1. Jangan Khawatir dengan Reaksi Orang Lain

Berhentilah untuk mengkhawatirkan perkataan orang lain dan mulailah dengarkan hatimu karena ia yang tau mana yang terbaik untukmu. Seringkali reaksi orang lain kepadamu bukan benar-benar peduli dengan apa yang kamu lakukan, beberapa reaksi justru hanya berniat untuk menjatuhkanmu agar tidak melakukan hal baik bagi dirimu sendiri. Yuk, jangan ikuti standar orang lain, apalagi sampai mengabaikan nilai-nilai utama yang kamu yakini. Yakinlah pada dirimu sendiri.

  1. Jadilah Pribadi yang Rendah Hati dan Mau Belajar Hal-Hal Baru

Manfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk belajar dan terus belajar agar tidak menjadi orang yang sok tahu. Kesempatan belajar akan tutup apabila kamu sudah merasa cukup dan tahu segala hal. Hal tersebut akan mendorongmu ke depan pintu gerbang kesombongan. Kebijaksanaan adalah kebajikan utama penganut filosofi stoicism dan salah satu cara mengembangkan kebijaksanaan adalah mengakui bahwa masih banyak yang perlu kamu pelajari.

  1. Jangan Menyia-nyiakan Waktu untuk Hal yang Tidak Bermanfaat

Jangan biarkan waktu kamu yang sangat berharga itu terbuang sia-sia untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Saat menjalani keseharian yang sangat padat dibarengi dengan aktivitas yang menumpuk, berkonsentrasi pada satu titik bukanlah hal yang mudah. Walau demikian, fokuskan perhatianmu saat menyelesaikan sebuah tugas atau dalam melakukan suatu perbuatan. Sebagai contoh, kamu punya begitu banyak tugas yang harus diselesaikan saat itu juga, tapi yang kamu lakukan hanyalah scroll Instagram. Maka, jangan kaget kalau kamu akan kewalahan dan stress sendiri saat tugasmu sudah mendekati deadline.

Jika kamu menerapkan hal-hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari, maka tingkatan stress yang harusnya kamu rasakan karena mengalami kejadian yang tidak sesuai dengan keinginan hatimu akan perlahan berkurang dan lama kelamaan akan menghilang. Otomatis, kamu akan lebih santai dalam menjalani hidup. Sebab hidup hanya sekali, tak perlu kamu ambil pusing berkali-kali. Just Enjoy!

           

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Log In

Forgot password?

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker