More

    Mengenal Lebih Dekat dengan Peradaban Islam

    Setiap masa memiliki makna yang bernilai, sehingga manusia dapat membuat sejarah sendiri dan sejarah pun membentuk manusia. Sejarah peradaban islam adalah gambaran masa lalu mengenai pertumbuhan dan perkembangan peradaban islam dari waktu ke waktu. Berikut ini merupakan pengenalan lebih dekat dengan peradaban islam.

    Dinasti Umayyah

    Dinasti Umayyah adalah kekhalifahan pertama setelah era Khulafaur Rasyidin yang berdiri pada 661 M.  Nama dinasti ini diambil dari Umayyah bin ‘Abd asy-Syams atau Muawiyah bin Abu Sufyan, salah seorang sahabat Nabi Muhammad, lalu menjadi khalifah yang memimpin pada 661-680 Masehi. Terdapat 2 periode utama, yaitu tahun 661-750 M berpusat di Damaskus dan periode 756-1031 M di Cordoba. Pada masa pemerintahan Al Walid bin Abdul-Malik (705-715), Pembangunan diutamakan seperti rumah sakit dan Masjid Al Umawi di Damaskus, Masjid Al Aqsa di Yerusalem, perluasan Masjid Nabawi di Madinah.

    Keruntuhan dinasti umayyah mulai terlihat pada perjalanan awal abad ke-9. Pergolakan wilayah kekuasaan sehingga sedikit demi sedikit tercerai-berai. Pada 1031, Hisyam III selaku Khalifah Umayyah di Cordoba saat itu, mengundurkan diri dari jabatannya. Situasi semakin kacau akibat mengalami krisis kepemimpinan dan dewan menteri terpaksa menghapus jabatan khalifah. Pemerintahan Umayyah di Andalusia pun terpecah menjadi negara-negara kecil hingga akhirnya kekuasaan Islam di Cordoba benar-benar musnah.

    Dinasti Abbasiyah

    Dinasti Abbasiyah adalah dinasti peradaban Islam atas asas ilmu pengetahuan pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H.  Dinasti Abbasiyah ini didirikan oleh  Abdullah al-Saffah Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn al-Abbass keturunan Abbas, paman Nabi Muhammad SAW, berkuasa setelah Dinasti Umayyah di Damaskus runtuh. Pusat pemerintahan kerajaan Abbasiyah terletak di Baghdad.

    Terdapat perbedaan sikap politik yang dilakukan Daulah Abbasiyah dan Daulah Bani Umayyah, seperti pemegangan kekuasaan pada Dinasti Abbasiyah lebih merata, karena bukan hanya dipegang oleh bangsa Arab sehingga lebih demokratis. Pergerakan yang dilakukan dalam perluasan kekuasan dan pengaruh islam dilakukan ke wilayah timur Asia Tengah, Hindia, dan perbatasan China.

    Kekuasaan bani Abbasiyah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang berkisar tahun 132 H sampai 656 H (750 M-1258 M) yang dibagi menjadi 5 periode, salah satunya yaitu Turki dua pada Periode keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M) yang dikuasai dinasti bani Saljuk.

    Dinasti Safawiyah

    Dinasti yang nama tarekat terinspirasi dari nama pendiri tarekat itu sendiri yaitu Safi Al-Din yang berdiri  di Ardabil, sebuah kota Azerbaijan. Dinasti Safawiyah memiliki 11 khalifah salah satunya kekuasaan pertama yaitu oleh Syah Ismail I pada kekuasaan tahun 1501-1524 Masehi dan terakhir yaitu Abbas III tahun kekuasaan 1732-1736 Masehi.

    Dinasti  safawiyah mengalami kemajuan, seperti kemajuan di bidang ekonomi yang berhasil menguasai jalur perdagangan laut yang diperebutkan oleh belanda, inggris dan perancis. Pada kemajuan fisik dan seni seperti gaya arsitektur bangunan yang terlihat begitu jelas dari bangunan masjid Syaikh Lutf Allah yang dibangun pada tahun 1603 Masehi dan bangunan masjid Shah Husein yang dibangun pada tahun 1611 Masehi. Penyebab kemundurannya Akibat konflik berkepanjangan  antara Dinasti Safawiyah dengan kerajaan utsmani pada tahun 1733-1736 menyebabkan kemunduran.

    Dinasti Utsmani

    Dinasti ini berdiri pada paruh kedua abad 6 Masehi. Sultan pertama utsmaniyah  yaitu Osman I (1299-1324). Kontak pertama bangsa Turki dengan muslim terjadi di masa pemerintahan Umar bin Khattab. Kesultanan Utsmaniyah mencapai masa keemasan pada abad ke-16 di era pemerintahan Sultan Salim I.

    Takhta Sultan Salim I dilanjutkan Sultan Sulaiman I pada 1520. Turki Utsmani berhasil menguasai Lembah Sungai Nil di Mesir dan Lembah Sungai Eufrat, hingga ke Gibraltar. Di Afrika Utara, pasukan Turki Usmani menahan pasukan Kerajaan Spanyol yang menyerang lewat lautan. Sultan Salim I mempersatukan Baghdad, Kairo, dan sisa-sisa kekuasaan Byzantium dalam satu dibawah kekuasaannya. Sultan Sulaiman I diberi gelar Al Kanuni atau ahli penyusun perundang-undangan. Pada masa ini, ajaran Islam berkembang pesat dan rakyat hidup sejahtera.

    Baca Juga : Mengenal Lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW

    Latest articles

    Related articles