Selasa, 23 Desember 2025 aku berkesempatan untuk turun langsung melihat dan menyaksikan keadaan saudara - saudara kita di aceh tamiang pasca banjir yang menimpa mereka. Keadaannya masih sama yang katanya "hanya mencekam di sosmed" tapi realita yang kutemukan sama mencekamnya seperti video yang beredar padahal sudah 20+ hari pasca banjir itu tapi ke adaan belum membaik sama sekali.
Banyak rumah yang hancur, lumpur dan gelondongan kayu bertumpuk di mana - mana, mereka masih kesana kemari berhamburan mencari bantuan di jalan, tidur hanya beralaskan terpal dan di dalam tenda yang tak layak. Yang lebih mirisnya lagi, anak - anak di sana harus berjuang untuk mengisi perut mereka dengan berdiri di pinggiran jalan dengan muka memelas belas kasihan dan kotak ditangan mereka. Yah.. mereka kehilangan masa belajar, bermain hampir sebulan lamanya.
Ada rasa haru yang tak terbendung dalam diriku, ketika mendapatkan kesempatan untuk ke sana, menghibur dan mengedukasi mereka, sekedar memberikan afirmasi, apresiasi karena mereka sudah hebat untuk terus berjuang dan bertahan. Tawa mereka begitu renyah terdengar di telingaku, ketika aku menceritakan sebuah cerita dengan Lani (teman kesayanganku) yang membuat mereka juga terhibur.
Ga hanya ketika dongeng, sebelum itu mereka di ajak mewarnai dan main games oleh bapak-ibu team BBPSDMP Kemkomdigi. Mereka antusias sekali, apalagi ketika dapat hadiah buku mewarnai beserta dengan cat warnanya.
Ada beberapa hal yang lebih menyentuhku ketika selesai sesi dongeng, games, dan mewarnai. Ketika beberapa anak perempuan yang menghampiriku dan dengan antusiasnya mereka bercerita denganku. Lebih kurang ceritanya begini
👧🏻 : "Kak rumahku hancur (dengan wajah polos dan senyum nyengir)."
👧🏻 : "Kalau rumahku ga hancur kak, tapi asbes sama lotengnya rubuh. Jadi kami tidurnya di dapur."
Di sini aku gabisa berkata-kata dan sebisa mungkin membendung air mata yang ingin luruh. Mendengar cerita mereka yang menyayat hati tapi mereka berceritanya dengan wajah polos yang seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Beberapa dari mereka juga menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku pun tak tau harus menjawab apa, dan ga mau juga memberikan mereka janji yang tak pasti karena mereka nanya nya gini
👧🏻 : "Kakak kapan ke sini lagi?"
👧🏻 : "Kakak besok datang lagi kan kak? Atau kakak tidur di sini kak?"
👧🏻 : "Kak laninya boleh tinggal di sini? Biar main sama kita."
Hufffttt... ingin sekali ku jawab iya tapi yah aku juga gatau kapan ada kesempatan lagi untuk ke sana. Setiap ada relawan dan bantuan yang datang mereka itu menghadirkan secercah harapan untuk mereka, ya setidaknya bisa untuk mengisi perut di hari itu. Oh iya ada juga disuatu momen ada anak kecil yang nanya dan nunjuk bacaan di mobil ambulance
👧🏻 : "Kak, ini bacaannya apa?"
Aku pun bilang, coba kita baca bareng-bareng ya. Dia mulai mengeja huruf nya satu persatu dengan antusias dan aku yang mengoreksi ketika dia keliru mengeja hurufnya. Dari sini terlihat jelas bahwa pendidikan itu sangat dibutuhkan mereka, fasilitas yang seharusnya didapatkan oleh anak-anak seusia mereka. Pendidikan di sana belum tersedia sama sekali, seharusnya pemerintah bisa kan memberikan itu? Mengirimkan relawan dan pengajar yang membangun posko pendidikan atau posko khusus untuk trauma healing. Karena bantuan yang datang di sana kebanyakan sandang dan pangan.
Terkait pemerintah kita semua pasti sudah tau kan ya? Bagaimana tanggapan mereka tentang bencana ini, abai dan tidak peduli. Maka dari itu, aku ingin mengajak kalian yang membaca tulisan ini, yang memiliki keluangan waktu, harta, dan tenaga. Mari kita bantu saudara - saudara kita di sana, kita gencarkan lagi #warga bantu warga. Karena setiap bantuan yang kita berikan, menjadi harapan yang mereka dapatkan^^
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!