Ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Namun, semuanya berhenti di tenggorokanku yang tercekat.
"Ayah, mengapa harus aku? Ah, tidak. Mengapa harus begitu?"
"Ayah, aku terluka. Rasanya sakit sekali."
"Ayah, aku punya banyak stok maaf. Namun, tidak dengan rasa ikhlas dan melupakan."
"Ayah, mengapa harus begini?"
"Ayah, aku hilang arah."
"Ayah, apa aku tak pantas bahagia?"
"Ayah, apa tak ada cinta untukku?"
"Ayah ...."
Jika Tuhan mengizinkan, kelak pada waktunya aku hanya ingin berbicara dengan ayah dari hati ke hati. Aku ingin memaafkan ayah dengan segenap jiwa dan raga. Aku ingin memaafkan aya dengan keikhlsan yang paripurna.
"Ayah, maaf."
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!