Tahun 2025 datang dengan wajah-wajah baru. Lebih banyak dari yang kuduga.
Sebagiannya singgah sebentar. Sebagiannya tinggal lebih lama. Dan beberapa di antaranya, entah kenapa, meninggalkan kesan yang tidak kecil.
Tahun ini aku kembali work from office. Sesuatu yang dulu terasa biasa, kini terasa seperti fase baru. Aku kembali duduk di ruang yang sama dengan orang lain. Mendengar suara keyboard bukan dari headphone, tapi dari meja sebelah. Mendengar keluhan kecil, tawa singkat, dan obrolan yang tidak selalu penting, tapi terasa manusiawi.
Di luar kantor, aku juga mengikuti kelas bahasa Jepang secara intensif. Di sana aku bertemu dengan sensei-sensei baru. Ada yang orang Indonesia, ada yang orang Jepang. Masing-masing membawa cara berpikir yang berbeda. Cara menjelaskan yang berbeda. Cara menegur kesalahan yang juga berbeda. Dari mereka aku belajar bahwa bahasa bukan sekadar tata bahasa dan kosakata, tapi juga sikap. Cara menghargai proses. Cara menerima salah.
Dari sekian banyak wajah yang hadir tahun ini, ada beberapa yang rasanya pantas dituliskan secara khusus. Tim development di Indonesia.
Pak Guno, Mas Ogi, Wike, Ali, Ryan, Agus, dan Thesar.
Mereka bukan sekadar rekan kerja. Mereka adalah kumpulan manusia dengan energi muda yang terasa menular. Orang-orang yang datang ke kantor bukan hanya untuk menyelesaikan tugas, tapi juga untuk saling menghidupkan suasana.
Diskusi bisa serius, tapi selalu ada ruang untuk bercanda. Problem bisa berat, tapi selalu terasa lebih ringan karena dihadapi bersama.
Yang paling kuingat dari mereka bukan hanya kemampuan teknisnya, tapi cara mereka hadir. Cara saling mendukung. Cara saling menunggu. Cara saling menertawakan jokes random yang kadang tidak penting, tapi entah kenapa selalu pas di momen yang tepat. Di tengah tekanan deadline dan tuntutan pekerjaan, mereka tetap bisa menjaga satu hal yang sering hilang di dunia kerja: rasa waras.
Hari ini, 22 Desember 2025, aku resmi meninggalkan kantor. Bukan karena resign. Bukan karena lelah. Tapi karena aku mendapat penugasan lain dari pimpinan. Jalan yang berbeda, tanggung jawab yang berbeda.
Tidak ada drama besar. Tidak ada perpisahan yang terlalu teatrikal. Hanya satu hari kerja yang berakhir, lalu disadari pelan-pelan bahwa ini mungkin terakhir kalinya duduk bersama dalam ritme yang sama.
Aku berharap mereka semua sukses. Bukan hanya sukses secara karier, tapi juga tetap menjadi manusia yang menyenangkan untuk diajak bekerja. Tetap rendah hati saat berhasil. Tetap hangat saat lelah.
Aku berharap semangat muda itu tidak cepat padam oleh rutinitas. Aku berharap tawa-tawa random itu tetap ada, bahkan saat tanggung jawab semakin berat.
Kalau suatu hari kita bertemu lagi, entah sebagai rekan, partner, atau sekadar kenalan lama, aku ingin kita masih bisa saling menyapa tanpa canggung. Dengan senyum yang jujur. Dengan rasa hormat yang utuh.
最後に、みなさん、本当にありがとうございました。
またいつか、どこかで会いましょう。
Dan dalam bahasa yang paling sederhana:
Terima kasih sudah menjadi bagian dari tahun ini.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!