Malam itu, langit di atas asrama berwarna biru tua, warna biru yang tidak gelap, tapi juga tidak terang. Di atap yang jarang dikunjungi orang, Nara duduk sambil memeluk lututnya. Di tangannya, dengan buku catatan lusuh yang sudah setengah basah oleh embun.
Buku itu dulu hadiah dari ayahnya sebelum semuanya berubah, sebelum jarak dan waktu terasa sejauh ini. Setiap kali ia menulis di dalamnya, rasanya seperti berbicara dengan seseorang yang masih mendengarkannya.
Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat seluruh halaman asrama. Lampu-lampu kamar berpendar hangat, seperti bintang yang menempel di dinding. Ada tawa dari bawah, langkah-langkah kaki yang tergesa, dan suara gitar dari kamar pojok. Semuanya terasa hidup, tapi juga seperti perlahan menjauh.
Besok pagi, ia harus membuat keputusan besar: ikut lomba seni tingkat nasional—mimpi yang ia tunggu sejak duduk di kelas satu—atau tetap tinggal di sekolah untuk membantu adik kelasnya menyiapkan pentas drama yang akan ditampilkan minggu depan. Kedua hal itu sama pentingnya. Kedua hal itu ia cintai. Tapi waktu tidak memberinya kesempatan untuk memilih keduanya.
“Kenapa hidup selalu nyuruh kita milih?” gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh angin.
Ia membuka bukunya. Di halaman terakhir, tertulis kalimat yang ia tulis beberapa bulan lalu:
“Kadang, untuk menggenggam sesuatu yang baru, kamu harus melepas sesuatu yang lama.”
Ia menatap tulisan itu lama sekali. Kata “melepaskan” terasa berat di dadanya.
Keesokan harinya, Nara berdiri di depan ruang latihan drama. Dari balik pintu, ia melihat adik-adiknya sedang tertawa, berlatih dengan semangat. Ia tahu, tanpa dirinya, mereka akan sedikit kewalahan. Tapi di sisi lain, tiket lomba di tangannya juga terasa berat. Itu bukan hanya sekadar lomba, tapi itu impiannya, sesuatu yang ia perjuangkan selama ini.
“Kalau kamu pergi, siapa yang gantiin kamu di drama?” tanya salah satu teman dekatnya, dengan nada canggung.
Nara tersenyum kecil. “Mungkin mereka nggak butuh pengganti. Mungkin mereka cuma butuh percaya kalau bisa sendiri.”
Ia berjalan ke arah aula, menyerahkan surat pengunduran diri dari panitia drama. Tangannya sempat gemetar sedikit, tapi setelah itu, hatinya terasa ringan. Seolah-olah ada beban yang jatuh, tapi juga ruang baru yang terbuka.
Sore itu, sebelum berangkat ke pelatihan lomba, ia kembali ke atap asrama. Anginnya masih sama. Langitnya masih biru tua. Tapi kali ini, semuanya terasa berbeda.
Ia membuka bukunya lagi, menulis perlahan:
“Ternyata, tumbuh itu bukan soal punya semua hal, tapi tahu mana yang harus kamu pilih dan mana yang harus kamu lepaskan.”
Kita harus tau, jika sebagai manusia, kita tak bisa memilih semua hal sekaligus. Semua pasti ada opsi nya sendiri. Untuk memilih, kamu juga harus melepaskan yang lain.
“Aku tidak kehilangan apa pun—aku hanya sedang menukar cara mencintai.”
Nara menutup bukunya, menatap langit, dan menarik napas panjang. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan—campuran antara kehilangan dan keberanian.
Dari bawah, teman-temannya memanggil. Ia menatap sekali lagi atap tempat ia sering sembunyi setiap kali dunia terasa terlalu ramai. Kini, ia tidak merasa perlu bersembunyi lagi.
Ketika bus yang akan membawanya ke kota berhenti di depan gerbang sekolah, Nara menatap ke luar jendela. Dari kejauhan, ia bisa melihat atap itu—tempat di mana ia belajar arti melepaskan.
Langit sore berubah jingga perlahan. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, warna itu terasa seperti pulang.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!