Tahun 2025 ini, aku merasa Indonesia tidak sekadar diuji tapi ia ditampar berulang kali oleh kenyataan. Setiap tamparan itu meninggalkan duka yang belum sempat kita urai satu per satu. Dan entah kenapa, duka itu datang tanpa jeda, seolah kita tak diberi waktu untuk benar-benar pulih sebelum luka baru kembali terbuka.
Mungkin kamu juga merasakannya.
Hingga Oktober 2025 saja, 2.590 bencana alam tercatat terjadi di negeri ini. Hampir semuanya bencana hidrometeorologi(banjir, cuaca ekstrem, longsor) yang seolah sudah menjadi bagian dari kalender tahunan kita.
November ini duka itu terasa bahkan sebelum kita membaca angka atau laporan resmi di Sumatera. Ia terasa ketika seorang jurnalis lapangan, yang terbiasa menyaksikan tragedi, tak lagi sanggup menahan tangisnya saat melaporkan kondisi di Aceh. Di titik itu, profesionalisme runtuh oleh kemanusiaan. Dan justru di situlah kita tahu: ini bukan bencana biasa.
Ketika orang yang datang hanya untuk menyampaikan kabar pun ikut hancur, kita paham bahwa ada penderitaan yang terlalu besar untuk disampaikan tanpa luka.
Dari sana, duka itu berpindah dari layar ke wajah manusia. Seorang pria paruh baya di Aceh Tamiang berdiri di depan rumahnya yang tinggal puing. Ia tidak berteriak. Tidak memaki. Hanya berkata dengan suara yang nyaris habis, tentang betapa hancur hatinya melihat hidup yang ia bangun bertahun-tahun lenyap dalam semalam bahkan makanan pun tak ada,
"namun mau berkata apa Tuhan sudah berkata begini kami terima”
Aku membayangkan jika itu kamu.
Atau ayahmu.
Atau tetanggamu.
Di momen seperti itu, rumah bukan lagi bangunan. Ia adalah kenangan, kerja keras, dan rasa aman yang tiba-tiba direnggut. Statistik tentang “ratusan ribu rumah rusak” mendadak punya wajah. Punya suara. Punya luka.
Aku sempat berada di sana.
Menyaksikan rumah yang separuh tenggelam air.
Di jalan yang tak lagi bisa dilewati.
Di malam yang gelap tanpa listrik,
tanpa kabar, tanpa bahan makanan,
dan tanpa kepastian.
Dan luka itu ternyata bukan hanya milik warga.
Dalam sebuah rapat di posko terpadu, Gubernur Aceh berdiri dan mengatakan sesuatu yang jarang terdengar dari pejabat publik: ia mengakui ketidakmampuan. Bahwa daerahnya tidak sanggup lagi menanggung beban sebesar ini. Bahwa sumber daya telah habis, sementara penderitaan belum berhenti.
Di titik itu, duka berubah menjadi pertanyaan yang lebih besar:
kalau daerah sudah angkat tangan, lalu siapa yang seharusnya maju?
Aku tahu, negara bekerja dengan sistem. Aku tahu, ada prosedur, status, dan tahapan. Tapi aku juga tahu, bagi warga yang terjebak banjir dan longsor, waktu bukan urusan administrasi. Waktu adalah jarak antara makan dan lapar, antara selamat dan tidak, hidup atau mati.
Yang membuat duka Indonesia 2025 terasa panjang bukan hanya karena bencana datang bertubi-tubi, tapi karena sering kali harapan harus menunggu terlalu lama.
Hari-hari berlalu, dan di beberapa tempat, dunia terasa berhenti. Jalan terputus. Bantuan tak kunjung masuk. Wilayah seperti Bener Meriah terisolir, seolah berada di luar peta perhatian. Hingga akhirnya, alat berat datang. Jalan mulai dibuka.
Ada harapan di sana.
Tapi juga ada getir.
Karena bagi sebagian orang, bantuan itu datang setelah terlalu banyak yang hilang. Setelah rumah rata dengan tanah. Setelah ladang rusak. Setelah trauma terlanjur menetap.
Sepanjang 2025, cerita seperti ini tidak hanya terjadi di Aceh dan Sumatera. Erupsi Semeru, gempa Nias, longsor Bandung, banjir rob Natuna, banjir lahar Lumajang, angin kencang Bogor, hingga erupsi Gunung Ibu di Maluku Utara semuanya seperti satu rangkaian panjang tentang negeri yang semakin rapuh di hadapan alam, namun belum sepenuhnya siap berdamai dengan kenyataan itu.
Aku tidak menulis ini untuk menyalahkan sepihak.
Tapi aku juga tidak ingin kita terus menyebut semua ini sebagai “musibah” tanpa berani bercermin. Karena kita tahu, sebagian luka ini diperparah oleh pilihan manusia: hutan yang habis, sungai yang dipersempit, tata ruang yang diabaikan, dan kesiapsiagaan yang sering kalah oleh rutinitas.
Aku tidak menulis ini untuk menyalahkan semata. Tapi aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa semua ini hanya “takdir alam”.
Dan jujur saja, aku lelah jika setiap bencana hanya kita jawab dengan kalimat, “ini musibah.” Karena kita tahu, tidak sedikit dari luka ini yang diperparah oleh keputusan manusia: hutan yang ditebang, sungai yang disempitkan, tata ruang yang diabaikan, dan kesiapsiagaan yang sering kalah oleh rutinitas.
Yang paling kutakutkan bukan bencana berikutnya.
Yang paling kutakutkan adalah jika kita mulai kebal terhadap duka.
Ketika angka korban tak lagi membuat kita berhenti.
Ketika tangis di layar tak lagi membuat kita berhenti.
Ketika kehilangan orang lain terasa jauh, selama bukan kita yang mengalaminya.
Indonesia sedang berduka di tahun 2025. Dan mungkin, duka ini adalah cara alam atau sejarah bertanya pada kita:
Apakah kita benar-benar belajar?
Apakah kita mau berubah, sebelum kehilangan menjadi lebih besar dari yang sanggup kita tanggung?
Apakah kita masih menempatkan nyawa manusia di atas segalanya?
Aku menulis ini bukan karena aku si paling tahu.
Aku menulis ini karena aku tidak ingin suatu hari nanti, kita berkata:
“seandainya dulu kita lebih peduli.”
Responses (2)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.