Di Lembah Harau, waktu berjalan lebih lambat. Senja menumpahkan warna oranye keemasan ke tebing-tebing raksasa, sementara angin lembah membawa aroma tanah basah setelah hujan siang tadi. Aku duduk di tepian balkon penginapan, secangkir teh hangat mengepul di tanganku. Dari kejauhan, rumah-rumah gadang mulai menyalakan lampu-lampu kecil bagaikan bintang yang turun ke bumi.
Suara jangkrik pelan-pelan muncul, disusul kicau burung yang hendak pulang. Cahaya bulan tipis menggantung malu-malu di ufuk, seolah menunggu giliran untuk menjaga malam. Aku menarik napas panjang, membiarkan udara lembah yang dingin dan segar masuk ke dadaku. Dalam kesunyian itu, suara hatiku terdengar lebih jelas:
“Mengapa rindu ini tetap tinggal, bahkan ketika aku mencoba merelakannya?”
Aku memandang cakrawala. Di balik tebing-tebing granit itu, mungkin ia sedang menatap langit yang sama. Sebuah kehangatan merambat di dada. Suara angin berbisik padaku,
“Kadang cinta tak perlu tergesa. Ia hanya butuh kesabaran dan keyakinan.”
Kata-kata itu terus menggema di benakku, menguatkan dan sekaligus menenangkan.
Aku membuka buku catatanku dan menulis:
“Jika kita menikah, mungkin akan lahir anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Namun jika tidak, maka lahirlah syair-syair yang indah.”
Aku tersenyum, setengah getir setengah pasrah. Di sela hembusan angin, batinku berbisik lagi:
“Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk berjalan bersamamu di jalan yang sama. Tapi tidakkah indah bahwa rasa ini membuatku lebih dekat dengan Tuhanku?”
Aku meneguk tehku, yang kini hanya hangat samar. Wajahnya muncul jelas di kepalaku. Aku berkata dalam hati,
“Aku titipkan rasa ini pada-Mu, Ya Allah. Selebihnya… biarlah aku mengaguminya saja. Aku tidak ingin memaksa, karena aku percaya Engkau lebih tahu ke mana hati ini seharusnya pulang.”
Azan Magrib menggema lembut dari surau kecil di kaki lembah, memantul di dinding-dinding tebing. Suara itu menusuk ke relung jiwa, mengingatkanku bahwa cinta bukan hanya soal dua hati cinta adalah arah pulang. Angin senja menyapu wajahku, seolah mengusap lembut pundakku dan berkata: sabar.
Lampu-lampu di rumah gadang mulai bersinar lebih terang. Cahaya bulan perlahan mengambil alih langit. Aku menatap bintang-bintang pertama yang berkelip, merasakan rindu yang kini lebih tenang, lebih dewasa.
Dan di bawah langit-Mu yang luas, dengan lembah Harau sebagai saksi, aku menitipkan doa terakhirku malam itu:
“Jika dia memang takdirku, pertemukanlah kami dengan cara yang indah. Jika bukan, ajari aku untuk tetap mencintai dengan hati yang lapang. Di bawah langit-Mu, temani lelahku bersama doa-doa.”
Dan aku berjanji pada diriku sendiri malam itu untuk mencintai tanpa takut kehilangan, untuk merawat rindu tanpa menuntut balasan, dan untuk selalu percaya bahwa setiap takdir, seberapa pun asing, selalu mengarah pada kebaikan yang Kau siapkan. Aku berjanji untuk tidak lagi menahan waktu, tetapi berjalan bersamanya, sambil membawa doa-doa yang tak pernah lelah kuucapkan.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!