Sudah dua minggu sejak terakhir kali mereka saling bicara. Tidak ada pertengkaran besar, hanya hening yang tiba-tiba tumbuh seperti kabut. Chat masih ada, tapi isinya kini sekadar
“lagi dimana?”, "udah makan?", "have fun yaa" atau “hati-hati di jalan”
basa-basi yang kehilangan makna.
Abin masih menyimpan notifikasi terakhir dari Dira, malam itu.
“Aku butuh waktu dulu.”
Pesan yang singkat, tapi terasa seperti tembok.
Awalnya, abin berpikir waktu bisa menyembuhkan. Ia sibuk dengan kerjaan, nongkrong sama teman, tiba - tiba jadi atlit banyak cabor dan pura-pura baik-baik saja. Tapi setiap kali membuka galeri dan melihat foto mereka di coffee shop langganan, perasaan itu datang lagi
pelan,
tapi nyata.
Sementara Dira, di sisi lain kota, menatap layar laptopnya kosong. Deadline menumpuk, tapi pikirannya tak fokus. Ia bukan tak ingin kembali bicara hanya takut semuanya berubah. Bahwa mungkin abin sudah benar-benar baik tanpa dirinya.
Namun, malam itu, entah dorongan dari mana, Dira menulis pesan:
“Aku lewat tempat biasa. Kopinya masih enak. Tapi rasanya beda tanpa kamu.”
Abin membaca pesan itu berkali-kali. Tidak langsung dibalas, tentu. Ia menutup ponsel, mencoba menenangkan diri,
tapi senyum kecil sudah terlanjur muncul.
Keesokan sore, ia datang ke tempat itu.
Dira sudah di sana duduk di meja pojok, seperti dulu. Tak ada pelukan, tak ada kalimat panjang. Hanya dua orang yang sama-sama sadar:
mereka tidak sedang memulai dari awal, tapi melanjutkan yang sempat tertunda.
“Kamu gimana kabarnya?” tanya dira,
suara pelan tapi tulus. Abin menatapnya sejenak, lalu tersenyum.
“Masih sama. Cuma, sekarang aku tahu, jeda bukan berarti selesai.”
Mereka tertawa kecil, lalu hening. Tapi kali ini, heningnya tak lagi berat. Ada kenyamanan di antara jeda. Ada ruang untuk memperbaiki, bukan menyesali.
Dan mungkin, memang begitulah di zaman sekarang. Tidak selalu mulus, tidak selalu cepat. Kadang penuh jeda, kadang nyaris berhenti.
Tapi selama masih ada keberanian untuk duduk berdua lagi dan berkata,
“Let’s start adjusting again and move forward together,”
maka itu belum berakhir.
Karena kita; bukan titik. Kita hanyalah titik koma
berhenti sebentar, tapi tidak menyerah.
Responses (1)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.