Hari ini aku menulis bukan karena tahu semua jawabannya.
Aku menulis karena ada sesuatu yang ingin kupahami pelan-pelan.
Mungkin kamu juga sedang berada di titik yang sama
mencoba berdamai dengan hari, dengan kabar, dengan diri sendiri.
Tulisan ini bukan untuk menggurui.
Hanya catatan kecil, dari aku, untuk kamu.
Selamat datang di hari ke - 4 tentang Kebiasaan baruku tahun ini
Petualangan tahun ini membuatku banyak bergerak, mencoba, dan berlari ke sana-sini.Tapi di tengah semua itu, tubuhku meminta jeda sebelum nanti aku bercerita tentang orang-orang baru yang datang dan mengubah caraku melihat hidup.
Kalo di Day 3 kemaren aku menulis tentang hidup yang terasa seperti petualangan dan banyak hal di luar rencana, dan hal - hal tidak pernah kubayangkan sebelumnya.Aku menikmatinya.
Dan aku merasa hidup.
Tapi ternyataa,
petualangan tidak selalu tentang terus melangkah.Ada fase di mana perjalanan justru mengajarkanku untuk diam sebentar.
Beberapa bulan terakhir, aku mulai lebih sering berolahraga.
Bukan karena target besar.
Bukan juga karena ingin terlihat konsisten di mata siapa pun.
Aku hanya ingin kembali merasa hadir di tubuh sendiri.
Pelan-pelan.
Sore dan seringan di malam hari.
Aku memulainya tanpa ambisi.
Hanya easy run—1 atau 2 kilometer.Tidak mengejar jarak, tidak memaksa cepat.
Awalnya terasa canggung.
Napas belum rapi.
Langkah masih berat.
Tapi aku tetap keluar rumah.
Aku belajar bahwa datang itu lebih penting daripada sempurna.Bahwa bergerak sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.
Perlahan, tubuh mulai menyesuaikan diri.Langkah jadi lebih ringan.Napas tidak lagi seberisik dulu.Jarak pun bertambah.
Aku bisa berlari dan sampailah di 5 kilometer pertamaku. Setelahnya kadang berhasil dan seringnya juga tidak. Dan ada hari-hari di mana larinya hanya cukup sampai kepala terasa ringan.Itu saja sudah cukup.
Dari lari, aku belajar tentang kejujuran.Di sana, tidak ada yang bisa dipalsukan.Kalau lelah, ya lelah.Kalau kuat, ya lanjut.
Tidak ada penonton.Tidak ada validasi
(heleh kadang juga ajang upload seretapa).
Hanya aku dan tubuhku sendiri.
Sampai akhirnya, tubuh itu bicara lebih keras.
Satu insiden kecil yang awalnya terasa sepele,tapi cukup untuk membuatku harus berhenti.Cedera.Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar harus rehat dari lari.
Aku kesal.Bukan karena sakitnya,tapi karena rasanya seperti dipaksa berhenti saat aku baru saja menemukan ritme.
Namun di situlah aku mulai paham sesuatu yang penting.
Konsistensi bukan soal terus memaksa maju.Kadang, ia justru hadir dalam bentuk berhenti.Memberi waktu.Memberi ruang.
Aku belajar mendengarkan tubuh sendiri.Belajar menerima bahwa tidak semua progres harus terlihat.Bahwa diam sebentar bukan kegagalan.Bahwa rehat bukan kemunduran.
Sekarang,
berhenti tidak lagi kutakuti.Ia menjadi jeda yang jujur.Waktu untuk pulih tanpa terburu-buru.Tanpa marah pada tubuh yang meminta perhatian.
Aku masih ingin berlari lagi.Tentu.Tapi kali ini bukan untuk membuktikan apa pun.Melainkan untuk merawat.
Tahun ini mengajarkanku bahwa hidup bukan lomba.Dan tubuh bukan alat pembuktian.Ia rumah.Dan rumah tidak pernah seharusnya dipaksa.
Mungkin kamu juga sedang berada di fase yang sama.Dipaksa berhenti dari sesuatu yang kamu cintai.Bukan karena kamu lemah,tapi karena hidup ingin kamu belajar cara yang berbeda.
Setelah aku belajar berhenti dan mendengarkan diri sendiri,
dunia pelan-pelan membuka pintunya lagi.
Dan di sanalah, orang-orang baru mulai hadir
membawa cerita, pertemuan, dan pelajaran yang tak pernah kutemukan saat aku sibuk berlari sendirian.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!