Hari ini aku menulis bukan karena tahu semua jawabannya. Aku menulis karena ada sesuatu yang ingin kupahami pelan-pelan.
Mungkin kamu juga sedang berada di titik yang sama— mencoba berdamai dengan hari, dengan kabar, dengan diri sendiri.
Tulisan ini bukan untuk menggurui. Hanya catatan kecil, dari aku, untuk kamu.
Selamat datang di hari ke - 3 tentang Rencana 2025 yang Bisa Kuceritakan
Awal tahun ini, aku menyebutnya resolusi.
Daftar rapi tentang apa saja yang ingin kucapai, ingin kuperbaiki, ingin kuubah.
Ada yang kutulis dengan keyakinan penuh, ada juga yang sekadar kutulis agar hidup terlihat punya arah.
Sekarang, ketika 2025 hampir habis, aku sadar: tidak semua resolusi dibuat untuk tercapai. Dan tidak semua yang gagal berarti sia-sia.
Ada rencana yang belum terlaksana.Bukan karena aku berhenti berusaha, tapi karena hidup sering kali berjalan lebih cepat dari kesiapan kita. Ada hal-hal yang harus mengalah pada keadaan, pada orang lain, bahkan pada versi diri sendiri yang berubah di tengah jalan.
Dulu, aku menyebut itu kegagalan.
Sekarang, aku mulai menyebutnya bagian dari perjalanan.
Kalau ditarik ke belakang, adventure tahun ini justru dimulai sekitar Februari yang lalu.
Bukan dari rencana besar, tapi dari hal yang terdengar receh: juara e-sport Mobile Legend di ajang Funsport Medan.
(Nanti kita cerita tentang komunitas ini)
Waktu itu Cecilion jadi hero andalan,
entahlah,
cuman kenapa cocok aja.
Bukan karena jago luar biasa, tapi karena dinikmati.
(Hanya cinta dan malam yang bisa ws 21x cuy)
Dari sana, hidup seperti menemukan pintu kecil yang lupa kutandai.
Aku mulai menulis.
Tulisan pertama lahir, lalu yang berikutnya.
Dan tanpa sadar, lahirlah satu ruang bernama Cecilion .D. Ace
(tempat paling aman untuk menyalurkan kebisingan di kepala).
Bukan untuk jadi hebat, tapi agar pikiranku tidak penuh sesak sendirian.
Hidupku di tahun ini seperti adventure: tidak selalu sesuai peta, sering melenceng,
tapi entah kenapa terasa lebih hidup.
Di sanalah aku belajar, bahwa melepaskan bukan berarti kalah tapi kadang itu satu-satunya cara agar tetap bisa melangkah.
Aku juga sok berani mencoba hal-hal yang sebelumnya cuma jadi wacana.
Cosplay all-role atlet di funsport.
Nyemplung ke cabang-cabang baru: mini soccer, basket, bowling, running, billiard.
Ikut lari bahagia
(katanya).
Padahal 5 km pertama rasanya lebih ke bertahan hidup, dan 10 km pertama tahun ini…
ya sudahlah, yang penting selesai.
Bahkan sempat sok-sokan naik panggung stand-up comedy.
(Hee. Author, ko pikir ko lucu? Enggaaaaak. Cuma jadi badut. )
Tapi badut yang belajar satu hal: menertawakan diri sendiri juga bentuk keberanian.
Di sepanjang perjalanan itu, aku bertemu banyak orang baru.
Dari komunitas, dari berbagai tempat, dari obrolan singkat yang ternyata meninggalkan insight panjang.
Mereka tidak datang membawa jawaban, tapi membuatku melihat hidup dari sudut yang berbeda.
Dan di situlah aku akhirnya paham perbedaan resolusi dan solusi.
Resolusi adalah apa yang ingin kukejar.Solusi adalah apa yang benar-benar kulakukan.
Aku mungkin belum mencapai banyak target besar. Tapi aku menemukan cara-cara kecil cara-cara kecil untuk hidup lebih jujur, bertahan dan memperbaiki diri. Cara mengatur ulang ritme hidup.
Cara mengatakan “cukup” sebelum lelah berubah menjadi luka.
Cara menerima bahwa tidak semua hal harus selesai tahun ini.
Cara bergerak tanpa terlalu sibuk terlihat benar. Cara menikmati proses, meski arahnya kadang tidak jelas.
Solusi tidak selalu tampak megah. Ia sering datang dalam bentuk keputusan sederhana: berhenti memaksa, mengubah arah, atau sekadar memberi jeda.
Rencana 2025 yang bisa kuceritakan hari ini bukan tentang daftar pencapaian. Melainkan tentang kesadaran bahwa aku masih berjalan, meski jalannya tidak lurus dan tidak selalu pasti.
Kalau kamu bertanya apakah aku kecewa pada resolusi yang belum tercapai? jawabannya dikit enggak lah, ya pasti iya dong.
(namanya juga manusia bukan nabi booy)
Tapi aku juga belajar satu hal penting: bertahan, beradaptasi, dan berani melepaskan juga sebuah pencapaian.
Mungkin kita tidak perlu terlalu keras pada rencana. Cukup jujur pada proses, dan menghargai solusi-solusi kecil yang sudah kita lakukan sejauh ini.
Jika hari ini kamu merasa hidupmu melenceng dari rencana awal, mungkin itu bukan tanda gagal melainkan tanda bahwa kamu sedang benar-benar hidup.
Mungkin, seperti aku, kamu sedang berada di petualangan yang belum sempat kamu rencanakan
dan justru di sanalah ceritanya dimulai.
Responses (0)
Join the Discussion
Sign in to share your thoughts and engage with the community.
No Comments Yet
Be the first to share your thoughts on this article!